Kendati demikian, pakar keamanan Lewis Berry dari Inforcer menegaskan bahwa serangan semacam ini tidak mudah dilakukan secara massal. Pelaku membutuhkan kombinasi foto berkualitas tinggi, pencahayaan ideal, dan beberapa gambar dari target yang sama — menjadikannya ancaman yang lebih bersifat tertarget daripada acak.
Alarm bagi Indonesia
Bagi warga Indonesia, peringatan ini datang di saat yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pada Juni 2024, peretas beralias MoonzHaxor mengklaim membobol sistem Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Polri dan menjual data itu di forum gelap BreachForums seharga USD 1.000. Data yang bocor diduga mencakup gambar sidik jari dan foto wajah anggota INAFIS.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengakui kebocoran itu terjadi, meski mengklaim data yang tersebar merupakan data lama yang tidak lagi aktif digunakan. Polri menyatakan akan melakukan mitigasi dan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait.
Yang membuat sidik jari berbeda dari data lain adalah sifatnya yang permanen. Kata sandi bisa diganti, nomor rekening bisa dibekukan — tetapi sidik jari tidak bisa diperbarui. Jika sudah bocor, risikonya mencakup pembobolan sistem autentikasi keuangan, akses fisik berbasis biometrik, hingga pemalsuan identitas.
Langkah Pencegahan Sederhana
Li Chang menyarankan agar bagian jari diburamkan atau dipikselasi sebelum foto diunggah ke media sosial. Pengguna juga diminta tidak sembarangan mendaftarkan sidik jari pada perangkat yang tidak dikenal.
Satu hal yang sedikit melegakan: produsen perangkat umumnya menyimpan data sidik jari secara lokal di dalam perangkat, tidak di cloud. Artinya, peretas yang hanya mengantongi foto sidik jari pun belum tentu bisa masuk ke perangkat target tanpa akses fisik langsung ke sana.***





