Perlu Kehati-hatian soal Tambahan Kuota Haji 2025, Menag: Kaveling-Kaveling di Mina Sudah Finis, Sentimeternya Sudah Terukur

Kondisi maktab jemaah haji Indonesia di Mina (Foto: MCH 2023)
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan pemerintah belum mewacanakan penambahan kuota jemaah haji untuk tahun 2025. Bukan berarti pemerintah menolak tambahan kuota, tetapi ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.

“Kuota tambahan, kami belum mewacanakan kuota tambahan. Bukan berarti kami akan menolak kuota tambahan,” kata Nasaruddin dalam rapat kerja bersama Komisi VIII di gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Rabu, 12 Maret 2025.

Menurutnya, penambahan kuota bukan hanya sekadar menambah jumlah jemaah, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek teknis seperti akomodasi, transportasi, katering, hingga fasilitas umum lainnya di Arab Saudi. Ia menekankan pentingnya perhitungan matang agar kenyamanan jemaah tetap terjaga.

“Itu harus dihitung. Jadi bukan sekadar menambah kuota, tapi nanti mau tidur di mana? Hotelnya sudah penuh, kendaraannya seperti apa, kateringnya bagaimana? Jadi lebih baik kita atur dengan baik, insyaallah semuanya bisa berjalan dengan nyaman,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Salah satu kendala terbesar adalah pengaturan lokasi di Mina, yang sudah tertata sesuai dengan kuota yang ada. Menurut Nasaruddin, setiap kaveling di Mina telah diatur dengan ketat, bahkan ukurannya sudah dihitung sampai ke sentimeter.

“Kalau kita tambah 20 ribu jemaah, harus ada jalan keluarnya. Jangan sampai nanti menyerbu tenda, bus, makanan, atau toilet jemaah negara lain. Itu bisa menimbulkan masalah baru yang tidak kita duga sebelumnya,” katanya.

Meskipun demikian, Nasaruddin tidak menutup kemungkinan adanya tambahan kuota, terutama jika ada negara yang tidak menggunakan jatah hajinya. Namun, ada konsekuensi yang harus diterima jika kuota tambahan diberikan kepada Indonesia.

“Kalau kita dapat tambahan dari kuota negara lain, ya kita harus siap dengan konsekuensinya. Misalnya, kalau Bangladesh tidak menggunakan kuotanya, maka kita harus menempati fasilitas mereka, termasuk dapur dan tenda yang disediakan untuk jemaah mereka,” tuturnya.

Nasaruddin menegaskan bahwa keputusan menerima kuota tambahan harus melalui pertimbangan matang. Jika dampaknya lebih banyak menimbulkan masalah daripada manfaat, maka lebih baik menjaga keteraturan jemaah yang sudah ada.

Pos terkait