Belajar dari Proyek Serupa Danantara yang Gagal
Sementara itu, pengamat internasional, Islah Bahrawi, menyebut jika Danantara adalah sejenis State-Owned Enterprises atau SOEs — “super holding” yang juga didirikan oleh banyak negara. Sebagian berhasil, sebagian lagi gagal.
“Untuk yang berhasil tidak perlu kita bahas. Kita bahas yang gagal saja. Mereka yang gagal (atau setidaknya terseok-seok) misalnya: Petrobras (Brasil), Sonangol (Angola), Eskom (Afrika Selatan) dan 1MDB (Malaysia), ” ungkap Islah, dikutip dari cuitannya di akun X, Selasa, 25 Februari 2025.
Menurut Islah, penyebab utama kegagalan pengelolaan investasi model ini adalah korupsi. Penyebab berikutnya adalah pengelolaan yang buruk, kurangnya transparansi dan profesionalisme manajemen yang terlalu mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik. Dan penyebab terakhir adalah pengelola bukan dari kalangan profesional, melainkan hasil diskresi penguasa.
“Penyebab kegagalan lainnya adalah suap menyuap di dalam BUMN yang sudah mentradisi. Ditambah juga adanya intervensi penguasa dan pergantian konfigurasi politik yang mengubah kebijakan pemerintah secara drastis. Semua ini menjadi penyebab utama atas lemahnya Petrobras, Sonangol dan Eskom,” jelasnya.
Kegagalan sebuah “super holding”, lanjut Islah, pada akhirnya menjadi beban ekonomi negara. Dana talangan dari pemerintah akan juga membebani keuangan publik dan sektor pendanaan prioritas lainnya.
“Jika berbagai kriteria kegagalan di atas masih juga dijalankan oleh Danantara, maka dia hanya akan seperti pohon Beringin — sekedar besar tapi tidak berbuah (bahkan ditebangpun juga susah karena dianggap angker). Semoga tidak”, pungkas Islah.
Prabowo Janji Transparan
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto—usai meresmikan Danantara—menekankan pentingnya transparansi badan ini. Presiden ke-8 RI itu menegaskan, pengelolaan investasi oleh BPI Danantara harus dilaksanakan dengan transparan dan sangat hati-hati. Oleh sebab itu, menurutnya Danantara bisa diaudit oleh siapa pun.
“Danantara harus dikelola dengan sebaik-baiknya, dengan sangat hati-hati, dengan sangat transparan, dengan saling mengawasi, harus bisa diaudit setiap saat oleh siapa pun,” ujar Prabowo, Senin, 24 Februari 2025.
Kata Prabowo, pengelolaan investasi oleh Danantara bersifat jangka panjang, sehingga harapannya manfaat Danantara dapat dirasakan oleh generasi penerus bangsa Indonesia.***





