Penceramah Gus Miftah Bilang Program Andalan Prabowo-Gibran Sudah Dicontohkan Para Nabi, Tepatkah?

Kebijakan kedua yang diterapkan oleh Nabi Yusuf As. adalah membangun cadangan pangan dengan cara membangun lumbung-lumbung pangan di semua wilayah kerajaan. Rakyat diwajibkan menyimpan setengah dari hasil produksi pertanian mereka pada lumbung-lumbung pangan, langsung dalam pengawasan dan koordinasi Sang Menteri.

Kebijakan ketiga adalah mengatur dan mengawasi distribusi cadangan pangan saat negara dalam kondisi rawan pangan akibat musim kemarau yang berkepanjangan–yang berlangsung hingga tujuh tahun.

Ternyata prediksi Nabi Yusuf As. tentang perubahan ekstrem iklim dan cuaca akhirnya terbukti. Setelah tujuh tahun Mesir mengalami musim hujan dan seluruh rakyat bisa bercocok tanam, tujuh tahun berikutnya, seluruh wilayah dilanda kemarau dan kekeringan berkepanjangan, sehingga tidak bisa lagi melakukan aktivitas usaha tani.

Bacaan Lainnya

Namun demikian, berkat kebijakan Nabi Yusuf membangun lumbung-lumbung cadangan pangan, seluruh rakyat Mesir tidak sampai mengalami kekurangan pangan, meskipun pada saat itu sama sekali tidak ada hasil pertanian apa pun. Stabilitas kerajaan tetap terjaga, tidak ada konflik sosial maupun gangguan keamanan, karena rakyat tetap dalam kondisi kecukupan pangan.

Konsep pembangunan ketahahan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf As. terbukti mampu mengatasi masalah pangan yang dihadapi seluruh rakyat Mesir pada saat kondisi alam tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan usaha tani–karena kondisi tanah yang sangat kering dan tidak adanya ketersediaan air yang dibutuhkan oleh tanaman.

Dari kisah yang tercantum dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur’an, yang kebenarannya diakui oleh semua orang, dan juga tercantum dalam kitab suci umat Nasrani yang dikenal dengan Perjanjian Lama itu, dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang telah dilaksanakan Nabi Yusuf As. merupakan dasar-dasar dari prinsip ketahanan pangan.

Setidaknya ada empat prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf As., yang sampai dengan saat ini bahkan pada masa-masa yang akan datangpun masih tetap relevan untuk diterapkan:

Pertama, prinsip Optimalisasi Lahan, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian yang dapat menghasilkan produk berupa bahan pangan pokok.

Kedua, prinsip Manajemen Logistik Pangan, di mana masalah pangan sepenuhnya dikendalikan langsung oleh pemerintah dengan memperbanyak cadangan pangan pada saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan pangan masyarakat mulai berkurang.

Ketiga, prinsip Mitigasi Bencana Kerawanan Pangan, yaitu melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana kelaparan atau kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan.

Keempat, prinsip Deteksi Dini dan Prediksi Anomali Iklim dan Cuaca, yaitu melakukan analisis terhadap kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrem dengan mempelajari fenomena alam, seperti tingkat curah hujan, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, evaporasi atau penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima oleh bumi.

Prediksi atau prakiraan dini terhadap kemungkinan terjadinya anomali iklim dan cuaca yang dilakukan oleh Nabi Yusuf As. belakangan terbukti secara ilmiah, bukan sekadar dugaan atau rekayasa belaka. Pengamatan dan Analisis yang dilakukan oleh otoritas klimatologi di hampir semua negara, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuktikan bahwa anomali atau perilaku menyimpang dari iklim dan cuca bisa terjadi pada kurun waktu 5 — 10 tahun sekali.

Selama Mesir mengalami kekeringan, Nabi Yusuf As. memimpin operasi pendistribusian makanan kepada masyarakat. Karena langkah inilah Nabi Yusuf menjadi populer karena kemampuannya mengatur kebutuhan rakyat, mendistribusikan pasokan pangan, dan menyelamatkan mereka dari keterpurukan

Dalam Ensiklopedia Mukjizat Al-Quran dan Hadis dijelaskan bahwa Nabi Yusuf memberitahukan apa yang harus dilakukan di tahun-tahun subur. Nabi Yusuf berkata, “Simpanlah hasil panen dan gandum kalian pada tujuh tahun yang subur ini.” Artinya, cara itu dimaksudkan agar biji tersebut tidak dimakan oleh serangga dan gandum tidak berkurang, kecuali yang akan dikonsumsi.

Maka, simpanlah dan jangan berlebih-lebihan, agar dapat memanfaatkan sisa gandum selama tujuh tahun yang sulit. Nabi Yusuf juga mengajari teknik dan metode penyimpanan yang sangat ilmiah dengan berkata, “Biarkanlah biji itu berada di tangkainya, lalu simpanlah untuk menghadapi masa-masa paceklik.”

Pos terkait