JAKARTA–Penceramah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah bikin heboh warganet setelah menyatakan bahwa program-program andalan pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, sudah dicontohkan oleh para nabi.
“Programnya pak Prabowo, itu semuanya mencontoh. Mencontoh Nabi Yusuf soal food estate, mencontoh Nabi Ibrahim soal makan siang, dan mencontoh Rasulullah soal hilirisasi,” ucap Gus Miftah seperti dikutip dari unggahan video akun X–sebelumnya Twitter–@Ustadz_Ahong, dikutip Senin (20/2/2024).

Tepatkah permisalan Gus Miftah tersebut? Mari kita telusuri sejarahnya.
Nabi Yusuf Menjalankan Program Food Estate?
Nabi Yusuf As. dikenal sabar dan pandai dalam mengelola pertanian, sehingga di zamannya swasembada pangan berhasil diterapkan di Mesir–negeri dia akhirnya menjadi pemimpin. Kisah Nabi Yusuf dapat dilihat dalam Al-Quran Surah Yusuf: 47-48.
“Dan raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku’. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’. Yusuf berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan‘.” (QS Yusuf: 54-55)
Raja Mesir dikisahkan bermimpi melihat tujuh butir jagung hijau yang diolah menjadi tujuh batang yang kering. Semua ahli tafsir mimpi dan ahli sihir tidak bisa menafsirkan mimpi tersebut. Lalu, seorang pelayan raja menyarankan untuk mendatangkan Nabi Yusuf As. untuk menafsirkan mimpi tersebut. Nabi Yusuf pun datang dan menjelaskan kepada raja, bahwa Mesir akan ditimpa masa yang baik selama tujuh tahun, masa paceklik selama tujuh tahun, dan tahun-tahun berikutnya yang baik.
Dengan kecerdasan intelektual dan kemampuannya menganalisa, Nabi Yusuf mampu menerjemahkan mimpi sang raja, yang akhirnya melahirkan sebuah konsep yang belakangan kita kenal sebagai konsep “ketahanan pangan”.
Nabi Yusuf memprediksi bahwa di seluruh kawasan Mesir akan mengalami 7 tahun musim dengan curah hujan normal yang akan disusul 7 tahun kemarau panjang (QS Yusuf : 48). Untuk itu, beliau menyarakan kepada Sang Raja untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan ditimbulkan akibat kemarau panjang itu.
Setelah melihat kecerdasan dan kemampuan Nabi Yusuf dalam menganalisa kondisi wilayah kerajaan, akhirnya Raja Kiftir menyerahkan urusan ini kepada Nabi Yusuf As. dengan mengangkatnya sebagai Menteri Urusan Pangan.
Mulailah nabi Yusuf As. menyusun konsep dan strategi ketahanan pangan, karena beliau menganggap bahwa masalah pangan adalah masalah yang paling urgen pada saat itu. Beliau kemudian menyusun rencana pembangunan ketahanan jangka pendek, yaitu selama 7 tahun pertama, sebagai bentuk antisipasi terhadap prakiraan terjadinya anomali iklim dan cuaca pada 7 tahun berikutnya.
Kebijakan pertama yang diambil oleh sang Menteri Urusan Pangan adalah memerintahkan seluruh rakyat Mesir untuk mengoptimalkan sumber daya lahan, yang pada saat itu didukung oleh ketersediaan air yang mencukupi, untuk melakukan penanaman gandum secara missal.
Seluruh potensi lahan yang ada dimanfaatkan untuk mendukung program peningkatan produksi pangan, terus dipacu dengan upaya peningkatan indeks pertanaman dari sekali tanam dalam setahun menjadi dua kali musim tanam dalam setahun.
Strategi tersebut terbukti sangat efektif meningkatkan produksi pangan, hasil panen gandum meningkat drastis sampai dengan dua kali lipat dari produksi sebelumnya, dan rakyat hidup dalam kecukupan pangan.





