Pemilu Wajib Damai dan Bahagia!

Doa dalam Bentuk Perbuatan Lebih Ampuh

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar didapuk untuk memimpin doa dan menyampaikan tausiah. Menurutnya,berdoa dengan bahasa perbuatan—yang dikerjakan sepenuh jiwa dan keikhlasan—lebih fasih daripada doa dengan bahasa kata. Yang paling utama lagi doa dengan legawa, menerima apa pun hasil Pemilu.

Bacaan Lainnya

Prof. Nasar juga mewanti-wanti dua hal. Pertama, Pemilu harus berjalan damai dan jujur. Dia menyitir QS. Al-Nahl: 92,yang artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di Hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu”.

Kedua, terkait kualitas pemilu yang akan menghasilkan output berupa dua karakter pemimping, yang kuat (al-qawiy) dan amanah (amin). Keduanya adalah karakter wajib pemimpin yang baik untuk dipromosikan. Kuat tapi tidak amanah itu bahaya, amanah tapi tidak kuat tidaklah sempurna.

Pos terkait