Pelantikan Rektor UINSA Diwarnai Gelombang Penolakan Civitas Akademika

Penolakan Rektor Uinsa
Demo mahasiswa menolak pelantikan Akh. Muzzaki. (Istimewa)

Pelantikan Akh. Muzakki sebagai Rektor UINSA periode 2026–2030 memicu gelombang penolakan keras. Ratusan mahasiswa bahkan nekat menduduki gedung rektorat.

Kabar pengangkatan kembali Akh. Muzakki sebagai Rektor definitif Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya oleh Menteri Agama menyulut penolakan luas di lingkungan kampus. Reaksi keberatan datang serempak dari kalangan dosen, guru besar, alumni, hingga ratusan mahasiswa.

Gelombang protes terpampang nyata lewat spanduk penolakan yang dipasang membentang di jembatan penyeberangan Jalan Ahmad Yani di depan kampus. Ruang digital pun diramaikan dengan berbagai unggahan bertema duka cita akademik hingga seruan boikot aktivitas perkuliahan.

Sorotan Tata Kelola dan Catatan Hukum

Keberatan dari barisan staf pengajar disuarakan secara terbuka oleh Hermanto Jakfar. Ia menilai pengangkatan kembali pimpinan petahana meninggalkan tanda tanya besar terkait integritas kepemimpinan di perguruan tinggi keagamaan negeri tersebut.

Bacaan Lainnya

“Kami para dosen merasa keberatan atas pengangkatan kembali Akh Muzakki. Hal ini karena rektor yang baru dilantik ini diduga melakukan tindak pidana dari pengaduan masyarakat,” kata Hermanto saat menyampaikan sikap rekan-rekannya.

Sorotan tajam turut ditiupkan Forum Guru Besar kampus. Juru bicara forum, Profesor Ghazali Said, menegaskan bahwa tata kelola universitas seharusnya menciptakan iklim keilmuan yang teduh, bukan memicu perpecahan.

“Kami menolak karena tata kelola yang dilakukan banyak menimbulkan kegaduhan di kampus Uinsa,” ujar Ghazali menegaskan pangkal keberatan para guru besar.

Massa Mahasiswa Duduki Rektorat

Kritik tajam turut dilontarkan kalangan alumni dan pengajar senior. Wakil Ketua Umum Ika UINSA, A. Bajuri, mengingatkan risiko hancurnya reputasi almamater apabila pucuk pimpinan terseret pusaran hukum penegak hukum.

“Jika rektor Uinsa diperiksa kejaksaan, ini akan membuat nama baik Uinsa tercoreng,” kata Bajuri.

Dosen senior UINSA, Syarifuddin, memandang rentetan kebijakan rektorat pada masa jabatan 2022–2026 kerap kontraproduktif dan memicu ketidakharmonisan antarwarga kampus.

Puncak perlawanan meletus saat ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi dan merangsek masuk hingga menduduki Gedung Rektorat UINSA, Rabu, 16 September 2026. Mereka bertahan di dalam ruangan sembari menuntut pembatalan pengangkatan rektor baru tersebut.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan