Kenapa startup banyak yang bangkrut?
Dilansir dari Spotbisnis, sekitar 80-90% start up gagal saat merintis. Alih-alih ingin menjadi perusahaan besar di bidang teknologi kenyataannya berakhir tragis. Laman yang mengupas permasalahan bisnis ini menyebut 5 alasan kenapa banyak startup bangkrut.
1. Tidak Adanya Kebutuhan Pasar
Manajemen start up lupa memperhitungkan kebutuhan pasar. Pada saat start up dibuat, hal yang harus dipastikan adalah product market fit, yaitu kesesuaian antara produk atau solusi yang ditawarkan dengan kebutuhan pasar. Berdasarkan laporan dari CBInsights, 42 persen Startup gagal disebabkan karena produk mereka tidak dibutuhkan pasar.
2. Kehabisan Uang
Untuk diketahui, start up yang baru memulai biasanya memiliki dua metode untuk mendapatkan pendanaan, yaitu dengan dana sendiri atau disebut bootstrapping dan dana investor.
Mayoritas start up teknologi sekarang menggunakan dana investor untuk mengakselerasi start up-nya. Dana yang dikucurkan tidaklah sedikit, bisa sekitar Rp100 juta sampai miliaran rupiah, dan itu umumnya dikasih dalam beberapa series pendanaan. Dana tersebut umumnya digunakan untuk memperbesar valuasi perusahaan dengan cara meningkatkan akuisisi konsumen.
Nah, upaya akuisisi yang dilakukan adalah dengan memperbesar budget marketing dan melakukan hiring karyawan sebanyak-banyaknya, terutama yang IT, untuk mengatasi bug.
Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah “bakar uang”. Tidak peduli akan profit, yang penting konsumen tertarik untuk menggunakan produknya.
Contohnya perusahaan e-wallet yang mengupayakan memberikan cashback yang besar agar pengguna mau menggunakan aplikasinya. Alhasil, niat hati ingin mendapatkan profit yang diterima malahan jadi defisit.
3. Kalah Kompetisi
Dulu ada search engine seperti Yahoo, Bing, dan Google. Tetapi, yang paling banyak dipakai sekarang adalah Google. Yahoo dan Bing kalah dalam kompetisi sebagai teknologi search engine.
Sebut saja perusahaan edutech seperti Ruangguru dan Zenius. Dan ada juga beberapa start up edutech lainnya namun tidak “seviral” kedua edutech tersebut.
Dalam persaingan di dunia start up yang mengungguli target market edutech ini, khususnya dengan target para pelajar, adalah Ruang guru, yang belakangan juga gulung tikar. Begitupun dengan perusahaan e-wallet. Awal-awal kemunculan ada banyak e-wallet yang hadir ke publik. Namun, yang masih bertahan hanya, Gopay, OVO, Shopeepay, dan Dana.





