Mengangkat filosofi Wuku Watugunung, koleksi perhiasan ini memadukan teknik oksidasi tembaga modern dengan kemewahan emas 18 karat dan berlian moissanite.
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali membuktikan bahwa budaya lokal adalah sumber inspirasi tanpa batas. Melalui Pawukon Jewelry Collection, Bhirawa Kusuma Wijaya menciptakan koleksi kalung dan anting yang mengintegrasikan nilai astrologi Jawa kuno (Wuku) dengan teknik material mutakhir.
Lahir dari tugas kuliah di Departemen Desain Produk Industri (Despro), proyek ini mengusung pendekatan material-driven design. Bhirawa melakukan eksplorasi mendalam pada teknik oksidasi guna memunculkan lapisan patina biru pada material tembaga, sebuah warna artistik yang jarang ditemui pada perhiasan konvensional.
“Zodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga kami mengangkat zodiak Jawa kuno asli Indonesia ke dalam bentuk perhiasan,” ungkap Bhirawa Kusuma Wijaya, Minggu (3/5/2026).
Simbolisme Wuku Watugunung
Mahasiswa asal Ponorogo ini memilih Wuku Watugunung—yang merupakan wuku kelahirannya sendiri—sebagai inspirasi utama. Desain koleksi ini memuat tiga elemen filosofis yang sangat kuat:
- Sang Hyang Antaboga: Diwujudkan melalui detail kepala naga bermahkota dari emas 18 karat, melambangkan semangat inovasi dan seni.
- Bunga Wijaya Kusuma: Menggunakan mutiara air tawar untuk merepresentasikan proses pertumbuhan yang anggun.
- Lakuning Rembulan: Divisualisasikan lewat Dancing Stone dengan mata berlian moissanite yang terus bergetar, menggambarkan karakter dinamis pembawa kebahagiaan.
Mengubah “Cacat” Menjadi Estetika
Salah satu keunikan utama karya ini terletak pada penggunaan teknik blue patina copper melalui metode ammonia fuming. Proses oksidasi terkontrol selama 24 jam ini mengubah permukaan tembaga menjadi biru artistik. Menariknya, Bhirawa justru memanfaatkan patina yang umumnya dianggap sebagai “cacat material” menjadi nilai jual utama.
“Patina sering dianggap sebagai kerusakan material, namun dalam karya ini justru dimanfaatkan sebagai elemen estetika yang bernilai artistik,” imbuh mahasiswa angkatan 2023 tersebut.
Proses pengembangan Pawukon memakan waktu satu semester, mencakup riset keamanan material saat bersentuhan dengan kulit hingga tahap produksi handmade. Dukungan penuh dari ITS berupa fasilitas ruang kerja dan pameran diharapkan mampu membawa produk ini menjangkau pasar komersial yang lebih luas sekaligus memperkenalkan kembali ilmu zodiak kuno Indonesia kepada generasi muda.***





