Pakar ITS Soroti Desain Kapal Usai Tragedi KM Virgo di Masalembo

Terbaliknya KM Virgo
Pakar Hidrodinamika ITS Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama soroti kesesuaian desain kapal dengan kondisi perairan demi aspek keselamatan berlayar terkait tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. (Humas ITS)

Tragedi terbaliknya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo menyisakan tanda tanya besar. Pakar ITS menilai modifikasi lambung dan pintu rampa memicu bencana.  

Insiden terbaliknya Kapal Motor Virgo Transport 8 di perairan Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, menyorot persoalan mendasar kelaikan desain armada laut penyeberangan. Kapal angkut kendaraan dan penumpang rute Surabaya menuju Banjarmasin itu dilaporkan miring dan terbalik pada Minggu dini hari, 13 September 2026.  

Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Profesor I Ketut Aria Pria Utama, menilai musibah ini berakar dari sering diabaikannya aspek performa gerak kapal di laut lepas.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” kata Ketut saat memaparkan analisis hidrodinamika di Surabaya.

Bacaan Lainnya

KM Virgo Transport 8 merupakan kapal impor asal Jepang buatan tahun 1987 yang telah berusia sekitar 39 tahun. Menurut Ketut, usia tua semestinya bukan faktor utama penyebab kecelakaan selama kapal dirawat secara disiplin.  

Ancaman Celah Pintu Rampa

Karakteristik perairan menjadi pembeda utama antara Indonesia dan negara asalnya. Jepang memiliki perairan dengan jarak antarpulau yang relatif dekat, berbeda dengan Laut Jawa yang terbuka dan memiliki gelombang besar.

Kapal jenis angkut muatan kendaraan asal negara empat musim biasanya dirancang dengan lambung tertutup penuh untuk menghadapi cuaca dingin. Di Indonesia, kapal serupa kerap dimodifikasi dengan bukaan di sisi samping demi penghematan energi dan menghindari ketentuan pajak ruang tertutup.  

Modifikasi semacam itu memperbesar risiko masuknya air laut ke dalam dek kapal dalam jumlah besar. Ombak tinggi atau celah pada pintu rampa yang tidak menutup rapat dapat membanjiri ruang muatan.  

“Mungkin lewat jendela, mungkin lewat pintu rampa yang tidak kedap atau ada sebagian terbuka begitu. Karena massa air yang masuk itu besar,” ujar Ketut.  

Massa air yang masuk tanpa sistem pembuangan memadai akan menciptakan efek permukaan bebas yang membuat olah gerak kapal berguncang hebat. Bahaya ini kian fatal jika kendaraan di dalam dek tidak diikat kuat, sehingga muatan bergeser dan mengubah titik keseimbangan kapal secara drastis.

Selain aspek teknis kapal, Ketut mengingatkan pentingnya pengenalan prosedur darurat keselamatan kepada seluruh penumpang sebelum berlayar. Penumpang harus memahami tahapan evakuasi mandiri guna mengantisipasi kejadian buruk di tengah laut yang datang tiba-tiba.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan