“Melihat perilaku Israel selama ini, yang sering mengingkari kesepakatan dengan pihak manapun — termasuk PBB dan AS — maka kesepakatan Mesir ini tetaplah rapuh,” tambahnya.
Rezasyah memperingatkan potensi manipulasi narasi dari pihak Israel yang bisa saja menuduh Palestina melanggar perjanjian demi membuka jalan serangan baru.
“Israel bisa saja membuat bukti-bukti baru tentang pelanggaran yang dilakukan pihak Palestina. Sekecil apapun bukti itu, sudah cukup untuk melakukan serangan. Amerika Serikat biasanya hanya akan mengkritik tanpa menjatuhkan sanksi,” pungkasnya.
Korban di Tengah Gencatan Senjata
Di tengah berlangsungnya gencatan senjata, sembilan warga Palestina dilaporkan tewas ditembak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sejak Selasa (14/10) dini hari. Enam korban berasal dari Gaza City, sementara tiga lainnya di Khan Younis.
Al Jazeera melaporkan, para korban merupakan warga yang tengah berusaha kembali ke rumah mereka di wilayah timur Gaza. IDF membenarkan aksi penembakan tersebut dengan alasan para warga mendekati pasukan dan menolak mundur setelah diberi peringatan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto turut menyaksikan penandatanganan dokumen kesepakatan perdamaian Gaza dalam KTT Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir.
Dokumen itu ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, serta disaksikan oleh Sekjen PBB António Guterres dan para pemimpin dunia lainnya.***





