Kopi hijau yang dimaksud adalah campuran antara bubuk kopi, butiran gula dan sedikit campuran kacang hijau yang telah dihaluskan. Tidak sedikit pula warkop yang menggunakan bubuk kopi murni tanpa campuran.
Cita rasa tidak hanya dari campuran kacang hijau, akan tetapi juga bisa berasal dari cara menggorengnya yang menggunakan teknik khusus dengan alat-alat yang tradisional. Biasanya rokok yang dilukis dengan cethe membentuk berbagai motif, seperti sulur, tulisan, tribal bahkan tokoh pewayangan.
Nyethe dan warkop membentuk komunitas baru pada masyarakat Tulungagung yakni komunitas “cethemania”. Hal ini terbukti dari sering diadakannya kegiatan-kegiatan yang berusaha mengumpulkan dan mewadahi kreativitas para penggemar cethe yaitu lomba nyethe atau nyethe competition se-Kabupaten Tulungagung.
Misalnya, pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyelenggarakan kegiatan “Lomba Nyethe” dengan jumlah peserta kurang lebih 2.000 orang. Selanjutnya pada tahun 2012 yang lalu, Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga menyelenggarakan “Lomba Nyethe” dengan jumlah peserta 100 orang.
Kegiatan tersebut merupakan agenda yang diadakan setiap tahun untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Tulungagung. Nyethe dan warkop telah menjadi tanda yang mengukuhkan sebuah identitas baru, melalui bertemunya beragam orang, lembaga, status sosial maupun identitas multikultur.
Warkop selalu terbuka untuk siapa saja khususnya bagi kaum laki-laki, tanpa mengenal pengelompokan sosial, status sosial, maupun agama. Apalagi pada tahun-tahun politik seperti 2023-2024 ini. Warkop menjadi ajang berkumpul silaturahmi antara politikus dengan calon konstituennya. Selamat ngopi, ngrokok dan nyethe.





