Karhutla Tembus 107 Ribu Hektare, Melonjak 366 Persen dari 2025

Ilustrasi kebakaran hutan. (Istimewa)

Luas karhutla semester pertama 2026 telah menembus 107 ribu hektare. Sebanyak 54 persen kebakaran terjadi di kawasan hutan.


Luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 107.465,47 hektare sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut meningkat 84.387,70 hektare atau 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan atau SiPongi menunjukkan 54 persen area yang terbakar berada di dalam kawasan hutan. Sebanyak 46 persen lainnya berada di areal penggunaan lain atau wilayah nonkawasan hutan. 

Luas karhutla semester pertama 2026 juga lebih tinggi dibandingkan sejumlah tahun pembanding. Kenaikannya mencapai 58.631,66 hektare atau 120 persen dibandingkan 2019 serta 56.383,94 hektare atau 110 persen dibandingkan 2023. 

Bacaan Lainnya

Kementerian Kehutanan menghitung luas kebakaran menggunakan analisis citra satelit Landsat 8 yang ditumpangtindihkan dengan sebaran titik panas. Data tersebut kemudian dilengkapi dengan pemeriksaan lapangan dan laporan pemadaman Manggala Agni. 

Naik Tajam Sejak Awal Tahun

Peningkatan karhutla telah terlihat sejak awal 2026.

Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran pada Januari hingga Februari mencapai 32.637,43 hektare. Pada Maret, luas kebakaran diperkirakan bertambah sekitar 10.175,48 hektare. 

Riau menjadi wilayah dengan perkiraan kebakaran terluas pada Maret, yakni 8.858,87 hektare. Wilayah lain yang tercatat antara lain Kalimantan Barat seluas 1.134,16 hektare, Kalimantan Tengah 34,86 hektare, Nusa Tenggara Timur 32,28 hektare, serta Kepulauan Riau sekitar 37 hektare. 

Jumlah titik panas juga menunjukkan peningkatan sejak awal tahun. Kementerian Kehutanan mencatat 702 titik panas pada periode 1 Januari hingga 5 April 2026, naik dari 125 titik pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup menyebut jumlah titik panas pada fase awal 2026 telah mencapai 3.609 titik atau sekitar tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Perbedaan angka tersebut dapat berasal dari rentang waktu, tingkat kepercayaan, atau metode pemantauan yang digunakan masing-masing lembaga. 

Kemarau Datang Lebih Awal

Pemerintah sebelumnya telah memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering daripada kondisi normal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan