Konflik AS-Iran membuktikan kegagalan institusi perdamaian global. Perang memuaskan naluri destruktif, tapi gagal capai tujuan.
Oleh: Emka Azzam Ittaqi, S.H.| Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum UI, Pengamat Politik, Hukum, dan Kemanusiaan.
Konflik antara Iran dan poros AS-Israel terus menyita perhatian dunia. Eskalasi ini tidak hanya memicu kekhawatiran akan krisis ekonomi, energi, dan politik global, tetapi juga mengkhianati tujuan luhur pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Board of Peace (BoP).
Rekam Jejak Kegagalan PBB
Piagam PBB Pasal 1 menetapkan tujuan utama institusi ini: menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Kenyataannya, sejak PBB berdiri pada 1945, dunia tidak pernah benar-benar sepi dari peperangan.
Berdasarkan data Uppsala Conflict Data Program (UCDP) dan Correlates of War (COW), umat manusia terus terjebak dalam pusaran konflik. Kita mencatat sekitar 25 hingga 30 perang antarnegara yang merenggut minimal 1.000 korban jiwa per tahun—mulai dari Perang Korea, Perang Teluk, konflik Rusia-Ukraina, hingga perseteruan abadi Israel-Palestina. Selain itu, lebih dari 250 perang saudara dan 300 konflik bersenjata intensitas rendah terus meletus di berbagai belahan bumi.
Secara historis, meski intensitas perang antarnegara sempat menurun setelah 1945, konflik internal justru melonjak tajam pada era dekolonisasi, sempat mereda pada 1990-an, lalu kembali memanas dalam dekade terakhir.
Kemunculan Board of Peace dan Ironi Konflik Baru
Menyadari ketidakmampuan PBB menjaga stabilitas dunia, komunitas internasional membentuk Board of Peace (BoP) pada tahun 2026. Deklarasi BoP mengusulkan solusi pragmatis dan menuntut keberanian untuk menyimpang dari institusi lama yang terbukti usang. Secara tersirat, BoP hadir untuk menggantikan rezim PBB melalui struktur keanggotaan berbayarnya.
Namun, ironi segera terjadi. Hanya sebulan setelah BoP berdiri, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Donald Trump, yang memegang jabatan Chairman for Life di BoP sekaligus mewakili pemerintah AS, justru gagal mencegah—dan bahkan memelihara—perang ini.
Ilusi Perubahan Rezim dan Ketahanan Konstitusi Iran
Dua minggu sebelum invasi, Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mengganti rezim di Iran. Ia mengulangi ambisi tersebut pada hari pertama serangan.





