Kesempatan untuk memuliakan NU secara konkrit tiba ketika ormas ini hendak menggelar muktamar untuk pertama kalinya di Jombang. Kiai Tar ikut memikirkan cara supaya muktamar sukses dan nyaman. Dia membangun Hotel Yusro, tempat menginap para kiai, Presiden Jokowi, dan peserta selama Muktamar NU ke-33 berlangsung di Jombang pada tahun 2015. Itulah hotel pertama di Jombang yang memenuhi standar kualifikasi pelayanan untuk tamu-tamu penting.
Kiai Tar sangat mengagumi Kiai Hamid. Jika menyebut nama gurunya itu, Kiai Tar selalu menyertakan qaddasallah sirrah—yang berarti “semoga Allah menyucikan dan menjaga segala rahasianya. Hadratus Syaikh Kiai Hamid Chasbullah qaddasallah sirrah, itulah panggilan takzim dari Kiai Tar untuk gurunya.
“Saya adalah murid kinasih Hadratussyaikh Kiai Hamid Chasbullah qaddasallahu sirrahu,” aku Kiai Tar. Gelar qaddasallahu sirrah seringkali disematkan untuk para wali besar, seperti Syaikh Abdul Qadil Al-Jilany, Syaikh Bahaduddin An-Naqsabandy, dan Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
Saking cintanya kepada Bahrul Ulum dan saking takzimnya pada Sang Guru, Kiai Tar pun memakai nama “Majma’al Bahrain” untuk pondok yang dia asuh: Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman. “(Pemberian nama) itu sesungguhnya karena kecintaan saya kepada Pondok Bahrul Ulum. Saya terinspirasi dari dua lautan yang ada di Tambakberas. Pertama, lautan kesadaran berbangsa dan bernegara yang ada pada sosok Mbah Kiai Wahab Chasbullah. Kedua, lautan kesadaran keislaman dan nilai-nilai zuhud yang ada pada Hadratussyaikh Kiai Hamid Chasbullah. Jadi, dari dua sosok lautan inilah saya menamakan pondok saya dengan ‘Majma’al-Bahrain’, yang artinya ‘bertemunya dua lautan’. Jadi, saya ini asli produk Tambakberas, dan dua sosok kiai tersebut yang menjadi panutan dan inspirasi saya. Makanya di sini (Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah) ada tarekat juga saya tanamkan jiwa nasionalisme dan cinta NKRI.”






