“Mlaku Ndodok”, Adab yang Dipelajari di Ndalem Pojok

Makam Bung Karno di Blitar yang selalu ramai dikunjungi peziarah.(dok. SF)

Sikap Sukarno membuat Raja Saud bin Abdul Azis dan protokolernya, para asykar, dan jamaah haji lain yang melihatnya takjub. Raja Saud sampai heran dan bertanya kepada Bung Karno, “Kenapa Anda melepaskan itu semua?” Bung Karno menjawab tegas: “Yang ada di sana itu Rasulullah Saw., pangkatnya jauh lebih tinggi dari kita, aku, dan dirimu!” Kemudian Bung Karno berjalan jongkok menghampiri makam Baginda Nabi Saw.—sebagaimana dia berjalan jongkok ketika berziarah ke makam kakek dan ayah angkatnya.

Lalu Bung Karno dan rombongan mengheningkan cipta dan berdoa di samping makam Rasulullah. Dia tak kuasa menahan tangis di depan makam manusia agung itu. Betapa besar ketundukan dan kecintaan seorang Bapak Bangsa kepada Rasulullah Saw. Bagi Bung Karno, pangkat dan kemampuannya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa risalah Islam ke seluruh jagad raya.

Menurut dr. Soeharto, dokter pribadi Sukarno yang ikut rombongan haji, rombongan Bung Karno mendapat keberuntungan ketika diperkenankan oleh Raja Saud untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad Saw. di areal Masjid Nabawi, Madinah. Sebab, kebanyakan ibadah haji ketika itu tidak bisa berziarah karena tidak mendapatkan perkenan raja.

Bacaan Lainnya

Bung Karno juga memberi pesan spiritual kepada dr. Soeharto dan didengar anggota rombongan yang lain. “To, kamu hendaknya jangan mempergunakan predikat haji, sebelum kamu betul-betul dapat mendirikan—tidak sekadar menjalankan—salat secara tertib sebagaimana yang diperintahkan,” demikian nasihat Bung Karno.

Sejak saat itu hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi erat. Hubungan baik itu pun terjalin hingga sekarang. Sebelum pulang ke Indonesia, Raja Saud bin Abdul Aziz memberikan hadiah istimewa kepada Bung Karno berupa mobil Chrysler Crown Imperial. Mobil itu merupakan mobil yang dipakai oleh Soekarno selama berada di Saudi Arabia.

Menurut Al-Habib Abu Bakar bin Hasan Al Athos Azzabidi—ulama yang dekat dengan Gus Dur—makam Bung Karno di Blitar ramai dikunjungi banyak orang sampai saat ini karena semasa hidupnya Presiden pertama Indonesia tersebut sangat memuliakan Nabi Muhammad Saw.

(Wijdan/Bersambung)

Pos terkait