Penyanyi legendaris Titiek Puspa wafat di usia 87 tahun. Sebelum berpulang, pelantun lagu-lagu evergreen itu sempat dirawat intensif akibat stroke dan harus menjalani operasi darurat karena pecahnya pembuluh darah di otak. Kondisi ini, secara medis, dikenal sebagai stroke hemoragik atau perdarahan otak.
___________
Meski istilahnya terdengar menyeramkan, pemahaman soal penyebab dan penanganannya penting diketahui masyarakat agar bisa lebih waspada.
Dikutip dari berbagai sumber medis, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah, sehingga darah bocor dan membanjiri jaringan otak sekitarnya.
Akibatnya, sel-sel otak bisa rusak dan bahkan berujung pada kematian jika tidak segera ditangani.
Gejalanya sering muncul mendadak dan cukup khas, antara lain sakit kepala hebat secara tiba-tiba, kelumpuhan atau kelemahan pada satu sisi tubuh, kesulitan bicara atau memahami pembicaraan, hilangnya keseimbangan dan koordinasi, penurunan kesadaran hingga pingsan.
Kalau merasakan gejala seperti itu, apalagi muncul secara mendadak, jangan tunda – segera ke rumah sakit.
Ada juga beberapa faktor risiko yang bisa memicu kondisi ini, yakni:
- Tekanan darah tinggi (hipertensi);
- Aneurisma (pelebaran dinding pembuluh darah yang melemah);
- Cedera kepala; dan
- Kelainan bawaan pada pembuluh darah.
Ada beberapa langkah sederhana bisa sangat membantu menurunkan risiko pecahnya pembuluh darah otak, seperti:
- Menjaga tekanan darah tetap stabil;
- Menjalani pola hidup sehat—seperti makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup;
- Menghindari rokok dan alkohol berlebihan; dan
- Rutin cek kesehatan, apalagi jika punya riwayat hipertensi.
Penanganan medis seperti operasi juga bisa menyelamatkan nyawa jika dilakukan cepat dan tepat. Setelah itu, pasien biasanya perlu menjalani perawatan lanjutan dan rehabilitasi.***





