Potensial Dikorupsi
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam, program makan siang dan susu gratis Prabowo rawan menjadi lahan penyalahgunaan, mengingat anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp400 triliun per tahun.
“Rp400 triliun, kalau dibelanjakan, tentu sangat luar biasa. Tetapi pada saat yang sama, itu membuka celah potensi praktik-praktik penyalahgunaan dalam konteks anti-korupsi, yang tentu tidak mudah untuk mengangkat aspek transparansi dan akuntabilitasnya dalam skala yang besar,” kata Umam dalam program Kompas Petang Kompas TV, Ahad, 31 Desember 2023.
Sementara itu, menurut Wakil Ketua Lembaga Pengawasan, Pengawalan dan Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI) Kurniawan Adi Nugroho, program susu dan makan siang gratis yang tengah dikampanyekan oleh Prabowo-Gibran dinilai hanya akan menguntungkan pihak tertentu—di mana situasi ini membuka peluang terjadinya korupsi.
Menurut Kurniawan, program susu dan makan siang gratis tersebut mirip seperti pengadaan yang kerap dikorupsi di pemerintahan. “Ini sama seperti halnya kasus tipikor pengadaan, program ini rawan terjadi kongkalikong antara pejabat dengan vendor, sama seperti kasus BTS,” katanya.
Potensi Risiko Kesehatan
Sebuah penelitian di Universitas Stanford, Inggris, menyoroti keberadaan bisphenol A (BPA), atau bahan kimia beracun dalam makanan sekolah. Bahan ini menimbulkan risiko, terutama bagi anak-anak yang bergantung pada makanan yang didanai pemerintah.
Selain itu, penyertaan makanan ultra-proses—atau makanan dari pabrik yang melalui banyak tahap pengolahan—dalam makanan untuk anak sekolah juga dikhawatirkan bakal menimbulkan penyakit kronis, seperti obesitas dan penyakit kardiovaskular.
Ada juga kekhawatiran tentang dampak potensial dari makanan sekolah terhadap indeks massa tubuh (BMI) siswa dan kualitas makanan secara keseluruhan. Maka dari itu, beberapa pengamat menilai, perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak tersebut secara menyeluruh.





