Lomba Baca Kitab Kuning Politik Digelar, Santri Didorong Jadi Aktor Bangsa

Ilustrasi. - Samudrafakta

Peserta berasal dari santri tingkat akhir atau mahasiswa berbasis pesantren, maksimal berusia 21 tahun. Perlombaan dibagi tiga tahap: seleksi daring 1–27 Oktober, semifinal 8 November, dan final 9 November 2025 di Jakarta. Juri berasal dari kalangan ulama, akademisi politik Islam, dan praktisi pesantren.

Kegiatan ini diharapkan melahirkan intelektual muda pesantren yang kritis, menghasilkan publikasi bacaan siyasah, dan membentuk jaringan kader politik berbasis turâts. “Santri harus menyadari pentingnya kekuasaan. Kitab-kitab fiqih siyasah amat berlimpah untuk dijadikan pijakan ideologi,” kata Aguk.

Aguk mengutip perkataan Imam al-Ghazali, “Manusia tidak akan mampu menciptakan sebuah peradaban tanpa empat hal, (1) Az-Zira’ah (pertanian), (2) Al-Hiyakah (industri tekstil), (3) Al-Bina’ (pembangunan), dan (4) As-Siyasah (politik)”.

Bacaan Lainnya

“Dari kesemua peran di atas, peran politik adalah peran penting dan yang paling mulia. Hal ini karena dengan peran politik, manusia dapat memiliki wewenang untuk menjaga, mengatur dan menegakkan kebaikan bagi semua peran pokok manusia sebagai khaliffatul fil ard”, pungkasnya. ***

 

 

Pos terkait