Lima Kota Indonesia Raih ASEAN Clean Tourist City Award 2026, Standar Kota Wisata Kini Dinilai dari Kebersihan

Taman Sriwedari Solo, kota ini masuk daftar kota wisata terbersih di ASEAN. - Wikipedia
Bukittinggi, Solo, Malang, Gianyar, dan Tomohon masuk daftar kota wisata terbersih Asia Tenggara 2026. Penghargaan ASEAN ini menilai kebersihan, tata kota, hingga pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Pada 2026 ini, kota wisata dianggap mewah jika memiliki nilai kebersihan yang tinggi, termasuk lima kota di Indonesia serta kota-kota lain di Vietnam dan Filipina.

Dikutip dari rilis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dalam ajang ASEAN Clean Tourist City Award 2026 yang diumumkan pada ASEAN Tourism Standards Awards di Cebu City, Filipina, lima kota dari Indonesia berhasil masuk daftar kota wisata bersih dan berkelanjutan tingkat Asia Tenggara.

Penghargaan itu diberikan kepada kota-kota yang dinilai unggul dalam kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, fasilitas wisata, tata kota, serta kenyamanan dan keamanan wisatawan.

Bacaan Lainnya

Lima kota Indonesia tersebut adalah Bukittinggi, Surakarta (Solo), Malang, Gianyar, dan Tomohon. Masing-masing dinilai memiliki kekuatan tersendiri yang membuatnya lolos standar ketat ASEAN.

Kekuatan Tiap Kota

Bukittinggi menjadi salah satu sorotan utama. Kota wisata di Sumatera Barat ini dinilai berhasil menjaga kebersihan kawasan wisata utama seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan pusat kota. Pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi poin penting penilaian, sejalan dengan posisinya sebagai destinasi wisata sejarah dan alam.

Surakarta (Solo) unggul dari sisi penataan kawasan wisata dan pelestarian budaya. Kota ini dinilai mampu menjaga kebersihan lingkungan di tengah aktivitas budaya dan pariwisata yang padat, terutama di kawasan keraton, kampung batik, dan pusat kota. Integrasi antara kebersihan, transportasi, dan pariwisata budaya menjadi nilai tambah Solo.

Malang dinilai kuat dalam pengelolaan lingkungan perkotaan dan fasilitas wisata. Kota ini dikenal dengan ruang publik yang tertata, kebersihan kawasan wisata kota, serta dukungan infrastruktur yang ramah wisatawan. Program kebersihan berbasis komunitas dan tata kelola kota yang konsisten menjadi bagian dari penilaian.

Dari Bali, Gianyar masuk daftar berkat pengelolaan destinasi budaya dan alam yang berkelanjutan. Kawasan seperti Ubud dinilai mampu menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah pariwisata, serta mempertahankan keseimbangan antara kunjungan wisatawan dan kelestarian budaya lokal.

Sementara itu, Tomohon di Sulawesi Utara dinilai unggul sebagai kota wisata pegunungan yang bersih dan tertata. Pengelolaan lingkungan, kebersihan kawasan wisata alam, serta komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas lingkungan menjadi faktor utama yang mengantarkan Tomohon ke daftar ASEAN.

Kota ASEAN Lain yang Masuk Daftar

Selain Indonesia, sejumlah kota dari negara ASEAN lain juga masuk dalam daftar ASEAN Clean Tourist City Award 2026. Dari Vietnam, Quy Nhon kembali meraih penghargaan berkat konsistensinya dalam menjaga kebersihan kota pesisir dan pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

Quy Nhon tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga menetapkan tolok ukur baru tentang bagaimana sebuah kota berkembang dapat tumbuh sambil tetap menjaga “jiwa hijaunya” tetap utuh. Keindahan Quy Nhon mulai menggema, bahkan sering disebut “Maladewa dari Vietnam” oleh turis. Pantai Ky Co menjadi salah satu yang populer dengan air jernih berwarna toska dan tebing-tebing dramatis, menjadi daya tarik bagi wisata snorkeling dan selam.

Selain wisata pantai, Quy Nhon juga kaya akan sejarah. Menara Banh It dan Thap Doi kuno menawarkan kontras spiritual yang tenang terhadap deburan ombak. Kota tersebut menawarkan blue print untuk masa depan pariwisata, di mana air tetap jernih, jalanan tetap bersih, dan sambutan tetap hangat seperti matahari tropis.

Dari Filipina, beberapa kota seperti Iloilo City, City of Ilagan, dan Tabuk City dinilai unggul dalam manajemen sampah, kebersihan ruang publik, serta fasilitas wisata yang ramah pengunjung. Sementara dari Myanmar, Pindaya dan Hpa-an masuk daftar karena keberhasilan menjaga kebersihan destinasi alam dan budaya.

Tujuh Standar Penilaian

Setiap kota yang diajukan oleh negara ASEAN harus melewati “uji stres” yang ketat terhadap standar lingkungan dan perkotaan.

ASEAN Tourism Forum (ATF) mengujinya dengan tujuh penilaian, yaitu:

  • Manajemen Lingkungan: kebijakan efektif yang melindungi ekosistem lokal.
  • Kebersihan dan Higiene: pemeliharaan ruang publik yang terlihat dan dilakukan setiap hari.
  • Pengelolaan Limbah dan Air Limbah: sistem mutakhir yang mencegah polusi.
  • Kesadaran Lingkungan: masyarakat yang aktif dididik tentang konservasi.
  • Ruang Hijau: rasio taman dan pepohonan yang tinggi dibandingkan dengan beton perkotaan.
  • Kesehatan dan Keselamatan: memastikan wisatawan merasa aman dan memiliki akses ke perawatan berkualitas.
  • Infrastruktur Pariwisata: fasilitas yang memenuhi standar internasional tanpa merusak lanskap.

Penghargaan ini menunjukkan bahwa di era pariwisata berkelanjutan, kebersihan dan tata kelola lingkungan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi identitas utama kota wisata di tingkat regional.***

Pos terkait