Ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat, 7 November 2025, bukan sekadar tragedi di ruang sekolah. Peristiwa itu berbuntut perdebatan nasional tentang batas antara hiburan digital dan ancaman bahaya yang nyata.
Polisi yang menyelidiki peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta menemukan bahan peledak rakitan, pipa logam, kabel listrik, dan senjata mainan menyerupai AR-15 bertuliskan: “Brenton Tarrant Welcome To The Hell.” Tulisan itu merujuk pada pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, tahun 2019.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Asep Edi Suheri menjelaskan, pelaku adalah siswa di sekolah itu sendiri, yang bertindak tanpa jaringan.
“Tidak ada indikasi keterlibatan kelompok teror. Namun pelaku mempelajari perakitan bahan peledak dari internet dan terpapar konten kekerasan ekstrem,” kata Asep dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).
Bagi banyak pihak, kasus ini adalah sinyal betapa mudahnya ruang digital berubah menjadi laboratorium bahaya. Konten ekstrem, video tutorial, dan gim perang kini bisa diakses anak-anak hanya dengan beberapa sentuhan jari.

Dari Sekolah ke Istana: Wacana Pembatasan Gim Muncul
Dua hari setelah kejadian, Ahad malam (9/11/2025), Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Hadir di sana Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Kapolri, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Usai rapat, Prasetyo mengatakan Presiden sangat prihatin dan mempertimbangkan langkah pembatasan terhadap gim daring bernuansa perang.
“Bapak Presiden meminta kami mencari solusi atas pengaruh negatif gim online, terutama yang menampilkan kekerasan bersenjata,” ujar Prasetyo kepada media di Kertanegara, Ahad malam.
Ia mencontohkan gim seperti PUBG Mobile dan Call of Duty: Mobile yang menampilkan simulasi senjata api secara realistis.
“Jenis-jenis senjata di gim itu identik dengan dunia nyata. Tanpa pengawasan, anak-anak bisa meniru atau menganggap kekerasan itu hal biasa,” tambahnya.





