Korban Gempa NTT Tembus 100 Orang, Lebih dari Separuh Meninggal Setelah Sempat Dirawat

Penampungan pengungsi gempa NTT. (BNPB)

BNPB mencatat korban meninggal gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur mencapai 100 orang per Senin, 24 Agustus 2026. Sebagian besar tambahan korban berasal dari pasien luka berat yang sempat menjalani perawatan.

Jumlah korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, mencapai 100 orang hingga Senin, 24 Agustus 2026. Lebih dari separuh jumlah itu tercatat setelah dua hari pertama penanganan bencana.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan jumlah korban meninggal pada satu hingga dua hari pertama tercatat 48 orang. Angka itu kemudian bertambah seiring meninggalnya sejumlah pasien luka berat yang sempat mendapat perawatan.

“Yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin, 24 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Dengan demikian, terdapat 52 kematian tambahan dibandingkan angka pada dua hari pertama. BNPB juga mencatat 1.603 orang terluka dan 180.327 warga masih mengungsi hingga Senin.

Korban Terus Bertambah Setelah Gempa

Jumlah korban meninggal terus berubah sejak gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Data BNPB menunjukkan korban telah mencapai 87 orang pada Sabtu, 22 Agustus, sebelum meningkat menjadi 100 orang dua hari kemudian.

Kenaikan angka kematian membuat penanganan korban luka menjadi salah satu fokus utama. Pada 22 Agustus, BNPB masih mencatat 1.298 korban luka, termasuk 336 orang dengan luka berat.

Dua hari berselang, jumlah keseluruhan korban luka bertambah menjadi 1.603 orang.

Pelayanan medis diperkuat dengan pengerahan KRI dr. Soeharso-990 yang bersandar di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai. Kapal rumah sakit TNI Angkatan Laut itu mampu menangani operasi besar dan memiliki ruang rawat inap berkapasitas 75 pasien.

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga juga ditempatkan di Teluk Nangalirang, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Gempa Susulan Sudah Lebih dari 6.400 Kali

Penanganan darurat masih dibayangi aktivitas seismik yang tinggi. Hingga Senin pukul 05.00 WIB, tercatat 6.409 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar M1,1 hingga M6,2.

Sebanyak 33 gempa berkekuatan sedikitnya M5 dan 139 kejadian dirasakan masyarakat. BNPB menyebut aktivitas gempa mulai menurun, tetapi gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung tiga hingga empat minggu.

Ribuan gempa susulan turut membuat sebagian warga memilih bertahan di luar rumah, termasuk mereka yang rumahnya tidak rusak atau hanya mengalami kerusakan ringan.

“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” kata Suharyanto.

Jumlah pengungsi juga terus meningkat. BNPB mencatat 150.576 orang mengungsi pada 22 Agustus, kemudian bertambah menjadi 180.327 jiwa pada 24 Agustus.

Sebagian warga memilih tinggal di pengungsian mandiri di kawasan perbukitan dan lokasi yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan memerlukan kendaraan kecil hingga petugas yang berjalan kaki.

Hingga 22 Agustus, sebanyak 954 ton bantuan logistik telah dikirim ke wilayah terdampak melalui 68 penerbangan. Bantuan tersebut dikirim menuju Labuan Bajo dan Maumere sebagai titik distribusi utama.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan