Konflik PBNU Dikhawatirkan Bisa Rusak Citra Pesantren

Konflik elite PBNU yang melibatkan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam Miftachul Achyar dikhawatirkan bakal merusak citra pesantren. - Istimewa
Gaduh elite PBNU dikhawatirkan mengganggu kepercayaan publik terhadap pesantren.

Gaduh pemakzulan Ketua Umum PBNU memantik keprihatinan dari kalangan pesantren. Sekjen Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans, menilai konflik elite itu berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap lembaga pesantren yang selama ini sedang berupaya memperbaiki citranya.

“Saya menyesalkan turbulensi yang ada sekarang ini dan saya berharap tidak berdampak langsung terhadap Nahdliyin yang di bawah,” kata Gus Hans, Rabu (26/11/2025). Ia mengajak semua pihak menjaga kondusivitas, terutama mereka yang berada di struktur organisasi. “Andaikan saja bisa islah itu akan jauh lebih baik,” ujarnya.

Gus Hans, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang, mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 NU akan digelar pada 2026 di Surabaya, bertepatan dengan satu abad NU. Baginya, masa menuju muktamar adalah waktu yang tepat untuk merapikan langkah, bukan menciptakan preseden buruk berupa pergantian kepemimpinan di tengah jalan.

Bacaan Lainnya

“Tinggal nanti diatur saja muktamar mau dipercepat atau seperti apa. Yang penting sebaiknya tidak membangun preseden buruk dan kebiasaan buruk mengganti pimpinan puncak tertinggi di tengah jalan,” ujarnya.

Ia mengakui ada kekhawatiran di kalangan pesantren. Bukan karena persoalan struktural PBNU itu berdampak langsung pada operasional pesantren, tetapi lebih pada persepsi publik. “Lebih kepada brand ya. Artinya, kita ini kan sudah jerih payah untuk meningkatkan citra pesantren. Habis kena pesantren roboh, kasus ini dan itu, ketambahan lagi induk organisasi,” jelasnya.

Menurutnya, publik kerap mengaitkan pesantren sebagai bagian dari NU, sehingga turbulensi di tingkat pusat secara tidak langsung menjadi beban tambahan bagi gerakan edukasi seperti Gernas Ayo Mondok. “Walaupun tidak ada kaitannya langsung, tapi orang kan memaknai bahwa pesantren adalah part of NU, maka ini menjadi PR tambahan lah bagi Gernas Ayo Mondok,” katanya.

Karena itu, Gernas Ayo Mondok memilih tetap fokus pada pemberdayaan santri. “Kami tidak mau menambah masalah dari yang ada sekarang ini, tapi lebih fokus pada empowering para santri agar mereka lebih produktif di kemudian hari,” ujarnya. Ia menutup dengan pesan tegas: “Jika memang kita tidak mampu untuk mengurus generasi yang sekarang, ya kita fokus saja untuk generasi masa depan.”

Sikap Gus Yahya

Di tengah kontroversi tersebut, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya bersikukuh bahwa dirinya secara de facto masih sah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Sikap itu disampaikan setelah Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menegaskan kembali pemberhentiannya dalam konferensi pers di kantor PWNU Jatim, Sabtu (29/11/2025).

Gus Yahya menegaskan bahwa berdasarkan AD/ART NU, pergantian Ketua Umum hanya dapat dilakukan melalui Muktamar atau Muktamar Luar Biasa. “Secara de facto saya tetap menjalankan tugas saya sebagai Mandataris Muktamar NU ke-34 di Lampung hingga 2026/2027,” ujarnya dalam keterangan resmi, Ahad (30/11/2025).

Ia menyebut agenda program PBNU tetap berjalan. Selain itu, ia mengklaim terus berupaya menangani dinamika internal dengan bimbingan para masyayikh. “Saya juga terus mengupayakan penanganan permasalahan dan turbulensi yang terjadi di tubuh organisasi PBNU saat ini, termasuk mengikhtiarkan islah demi persatuan jamaah dan jam’iyyah NU,” ujarnya.***

Pos terkait