Komandan Kunci Penutup Selat Hormuz Gugur, IRGC Tegaskan Perlawanan Berlanjut

Laksamana Muda Alireza Tangsiri. — IRGC
Kronologi Serangan dan Klaim Israel

Israel pertama kali mengumumkan keberhasilan operasi ini pada Kamis (26/3/2026). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menyatakan bahwa Tangsiri “memiliki banyak darah di tangannya” dan merupakan orang yang “memimpin penutupan Selat Hormuz.”

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut operasi yang dilakukan di Bandar Abbas itu sebagai “ekspresi bantuan” kepada Amerika Serikat dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran internasional tersebut.

Operasi tersebut tidak hanya menewaskan Tangsiri, tetapi juga sejumlah komandan senior lainnya, termasuk Kepala Direktorat Intelijen Angkatan Laut IRGC, Behnam Rezaei.

Bacaan Lainnya
Eskalasi di Tengah Diplomasi Jalan Buntu

Kepergian Tangsiri terjadi di tengah eskalasi konflik yang semakin meluas. Dalam 24 jam terakhir, Kuwait melaporkan satu pekerja India tewas dan pembangkit listrik serta desalinasi rusak akibat serangan Iran. Arab Saudi mengklaim berhasil menembak jatuh lima drone Iran di wilayah timurnya.

Sementara itu, upaya diplomasi yang digagas Pakistan bersama Turki, Mesir, dan Arab Saudi di Islamabad dilaporkan menemui jalan buntu. Sumber Iran menyatakan Teheran tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan operasi darat untuk mengambil alih infrastruktur minyak Iran. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menyebut opsi “mengambil alih minyak” Iran, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg—pusat ekspor minyak mentah Iran.

Tokoh Garis Keras Dua Kali Disanksi AS

Laksamana Tangsiri menjabat sebagai Komandan Angkatan Laut IRGC sejak 2018. Ia dikenal sebagai tokoh garis keras yang secara terbuka menentang kehadiran Amerika Serikat di kawasan Teluk.

AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Tangsiri dua kali—pada 2019 dan 2023—terkait perannya dalam pengembangan rudal jelajah dan drone bersenjata yang digunakan untuk mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Dalam sebuah pernyataan beberapa waktu lalu, ia menyatakan bahwa “tidak ada kapal yang terkait dengan agresor terhadap Iran yang memiliki hak untuk melintasi selat.”

Kematiannya menjadi salah satu pukulan terbesar bagi struktur komando IRGC sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026—saat serangan awal AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior lainnya. ***

Pos terkait