KH. Moch. Muchtar Mu’thi (2): Keturunan Nabi yang Membawa Pembaharuan Pengajaran Tarekat

Tak lama setelah keluar dari Tambak Beras, ayahandanya, KH. Abdul Mu’thi, wafat pada tahun 1948. Sepeninggal ayahnya, Muchtar sempat belajar ilmu tasawuf pada Kiai Muntoha di Kedung Macan, Sambong, Jombang. Kiai Muntoha adalah mursyid tarekat Naqsabandiyah, Anfasiyah, dan Akmaliyah. KH. Abdul Mu’thi, ayah Muchtar, juga pernah belajar pada Kiai Muntoha.

Setelah mempelajari tiga tarekat pada Kiai Muntoha, Muchtar memutuskan bergabung dengan Tarekat Anfasiyah. Dia mengikuti jejak kakek buyutnya, Kiai Zamroji, dengan berbaiat kepada Kiai Musytari—murid Kiai Zamroji yang telah mendapatkan ijazah untuk membaiat.

Bacaan Lainnya
Mengembara

Kiai Tar dikisahkan menemukan moment of truth di Sungai Padas, Jombang. Sungai ini biasanya menjadi tempat Kiai Tar singgah apabila ingin beristirahat setelah berkeliling menjajakan barang dagangannya dari satu desa ke desa lain. Di tempat ini pula Kiai Muchtar sering mengerjakan shalat apabila waktunya telah tiba dan merenungi kehidupannya. Di sungai Padas inilah Kiai Muchtar Mu’thi mendapatkan tonggak dasar pemikiran tasawufnya.

Beberapa bulan setelah momentum Sungai Padas, Muchtar memutuskan untuk berkelana. Dia ingin mencari makna hidup yang hakiki. Sebelum berangkat, Muchtar menyampaikan keinginannya kepada ibunya, Nyai Nasikhah. Ibunya mengizinkan dengan satu syarat: Muchtar harus membawa kitab Dalail al Khairat peninggalan KH. Abdul Muthi.

Dalail al Khairat adalah kitab karya Syekh Muhammad al-Jazuli, berisi petunjuk kebajikan. Kitab ini masyhur di wilayah Maghribi atau Arab Barat. Isinya kumpulan doa dan pujian keagamaan berdasarkan 99 nama Allah Swt.

Pengembaran Muchtar dimulai dari daerah Cerme, Gresik, kemudian menuju daerah Surowithi, Ujung Pangkah, Bejagung, Asmorokandi, Lamongan, terus ke barat sampai ke Banten. Setelah beberapa saat di Banten, Muchtar meneruskan pengembaraannya melewati pesisir selatan Jawa melewati Yogya, Solo, Madiun dan berakhir di Ploso.

Selama pengembaraannya, Muchtar bertemu banyak sekali ulama, terutama ulama sufi. Dan dalam pengembaraan itu pula Muctar bertemu mahaguru Tarekat Shiddiqiyah, Syekh Syueb Jamali.

Muchtar bertemu Syekh Syueb di Masjid Agung Banten pada tahun 1952. Setelah itu, dia bertemu lagi dengan Syekh Syueb di beberapa daerah lain. Dan ketika bertemu Syekh Syueb Jamali di Kaseman, Banten, Muchtar dibaiat oleh sang Syekh, masuk Tarekat Khalwatiyah.

Tarekat Khalwatiyah adalah salah satu tarekat mukhtabarah yang diamalkan oleh Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf pernah singgah di Kesultanan Banten dan menjadi guru spiritual di sana, hingga akhirnya dibuang oleh Belanda ke Afrika Selatan.

Tarekat Khalwatiyah inilah yang kemudian bermetamorfosa menjadi Tarekat Shiddiqiyah. Syekh Syueb Jamali memang membaiat Muchtar dengan nama Tarekat Khalwatiyyah. Namun, menurut sejarahnya, ternyata Khalwatiyah bukanlah nama asil tarekat tersebut. Nama aslinya Shiddiqiyah.

Selain membaiat, Syekh Syueb mengamanatkan kepada Muchtar Mu’thi agar kelak jika Muchtar memiliki kekuatan dan kemampuan, dia mengembalikan nama asli Khalwatiyyah menjadi Shiddiqiyah.

Bersama dengan hampir 40 orang temannya dari berbagai daerah, Muchtar Mu’thi tekun menimba ilmu tarekat kepada Syekh Syueb. Namun, dari 40 orang tersebut, hanya tujuh orang yang mampu meneruskan ajaran Syekh Syueb, salah satunya Muchtar Mu’thi. Dan hanya Muchtar yang bertahan di Indonesia. Enam teman Muchtar lainnya mengikuti jejak sang guru menegembara ke Timur Tengah.

Pos terkait