Kenya Johnson (38) melangkah tanpa alas kaki di Pacific Coast Highway, jalur legendaris yang mengular sepanjang pesisir Malibu, Los Angeles, Kamis, 9 Januari 2025. Bayangannya membelah bola merah matahari yang terbenam, memudar di balik awan asap berwarna kelabu yang menggantung di atas laut berkilauan.
Tak ada yang ia bawa kecuali harta duniawinya: sebuah Alkitab, satu gaun, jaket lusuh penahan dingin malam, dan kantong tidur tipis. Seperti puluhan ribu warga Los Angeles lainnya, Johnson pada 7 Januari 2025 lalu, dipaksa meninggalkan rumahnya.
Kobaran api melumat perbukitan, sementara asap menyesaki udara hingga ke pantai tempat ia mendirikan tenda. Wanita asal San Francisco ini tahu waktunya untuk pergi sudah tiba. Dengan tas di punggung, ia melangkah menyusuri jalan raya menuju Los Angeles. Dua hari kemudian seperti dilaporkan USA Today, ia kembali dalam perjalanan yang sunyi menuju rumah — atau setidaknya, ke arah yang pernah ia sebut rumah.
Di seberang jalan bebas hambatan, Peter Lenkov, seorang produser TV kenamaan, menyaring abu di sisa-sisa rumah peristirahatannya yang menghadap laut. Tempat itu, dulu, adalah pelariannya dari Los Angeles yang hiruk-pikuk. Kini ia berdiri di tengah puing-puing.
Dua pasang kacamata hitam antik ditemukan meleleh di dalam kotak, nyaris tak berbentuk. Namun, yang ia cari adalah jam tangan pemberian istrinya. Bukan karena nilai materialnya, melainkan kenangannya. “Jika masih bisa dikenali,” gumamnya lirih, “jam itu bisa jadi pemberat kertas.”
Di sebelah tenggara, keluarga Nguyen berdiri terpaku di depan abu rumah mereka di Pacific Palisades. Rumah yang selama 19 tahun menjadi saksi kerja keras dan harapan mereka kini hanyalah sisa arang dan debu. Sean, putra mereka yang berusia dua puluh tahun, memunguti sendok dan peralatan makan dari kenangan yang telah berubah menjadi abu halus.
Los Angeles adalah kota kontras yang menawan sekaligus brutal. Di sini, rumah-rumah megah berdiri angkuh di samping gubuk-gubuk tunawisma yang menghuni pinggiran. Sebuah dunia di mana mereka yang menggenggam kekayaan tak terukur berbagi udara dengan mereka yang mencari makan di tong sampah.
Kota Para Miliarder
Menurut Henley and Partners, pada tahun 2024, kota ini dihuni oleh 212.100 jutawan dan 43 miliarder. Namun di balik gemerlap statistik itu, sekitar 75.000 warga tunawisma berjuang untuk bertahan hidup.
