803 siswa Grobogan alami dugaan keracunan usai santap MBG, sorotan mengarah pada pengelolaan pangan.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Kali ini, sebanyak 803 siswa di Grobogan, Jawa Tengah, mengeluhkan gejala keracunan usai menyantap menu MBG. Para siswa merasakan pusing, mual, muntah, hingga diare tak lama setelah makan.
Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Sri Raharjo menyebut keracunan makanan umumnya muncul akibat kesalahan dalam pengelolaan pangan. Ia menegaskan, bakteri dapat berkembang jika pengolah makanan mengabaikan prosedur keamanan.
“Keracunan terjadi karena bakteri pada bahan pangan tidak dikelola dengan benar,” kata Sri Raharjo dikutip dari laman UGM, Rabu, 21 Januari 2025.
Sejauh ini, dugaan sementara mengarah pada menu abon dan telur. Namun, Sri Raharjo menegaskan pihak berwenang belum memastikan penyebab pastinya. Ia menjelaskan, bahan pangan hewani memang menyimpan risiko tinggi jika pengolah tidak menerapkan teknik yang tepat.
“Bakteri secara alami ada di saluran pencernaan hewan. Jika pengolah salah menangani, risiko keracunan meningkat,” ujarnya.
Sri Raharjo menekankan pentingnya kebersihan fasilitas dan proses pengolahan yang benar. Ia meminta dapur MBG memastikan suhu panas merata saat memasak agar bakteri mati sempurna.
“Cara paling aman ialah memasak dengan panas yang cukup dan merata,” tegasnya.
Ia juga meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyesuaikan kapasitas produksi dengan jumlah sasaran. Menurutnya, beban berlebih berpotensi menurunkan kualitas makanan.
“SPPG harus bekerja sesuai kapasitas. Jika memaksakan, kualitas dan keamanan pangan bisa turun,” jelasnya.
Tak hanya itu, Sri Raharjo mendorong pengawasan dan pencatatan ketat di setiap SPPG. Ia menilai sistem rekam jejak pangan penting untuk memastikan makanan tetap layak konsumsi.
“SPPG wajib mencatat kondisi pangan secara menyeluruh. Dengan begitu, mereka punya data jelas soal makanan layak atau tidak layak,” katanya.
Sri Raharjo juga menyoroti pola pemberitaan kasus MBG. Ia menilai media kerap berhenti pada informasi bahwa sampel makanan masih diuji laboratorium, tanpa menyampaikan hasil akhirnya.
“Media sering menulis ‘sedang diuji’, tapi publik tidak pernah tahu hasilnya. Padahal, hasil itu penting agar SPPG tahu penyebab dan langkah pencegahan,” ujarnya.
Ia berharap hasil uji laboratorium diumumkan secara terbuka. Dengan langkah itu, SPPG dan mitra terkait bisa memperbaiki sistem dan mencegah kasus serupa terulang.





