Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sekitar 4.000 ibu hamil dan 30 ribu bayi meninggal setiap tahun di Indonesia. Tingginya angka kematian ibu dan bayi tersebut dinilai tidak cukup diatasi hanya melalui pendekatan medis semata.
Ketua Pengurus Pusat Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (PP HOGSI), Dwiana Ocviyanti mengatakan persoalan kesehatan reproduksi harus dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosial, budaya, hingga religi.
“Kalau Indonesia yang terkenal dengan keragaman kulturnya tidak disentuh dengan cara yang berbeda sesuai dengan kondisinya, maka upaya ini tidak akan berhasil,” kata Dwiana dikutip dari laman UGM, Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat menyampaikan hasil Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) 2026 yang digelar pada 11–13 Mei 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Stunting Dimulai Sejak Masa Kehamilan
Dwiana menjelaskan persoalan stunting perlu dicegah sejak masa kehamilan. Menurutnya, sekitar sepertiga kasus stunting sudah terjadi ketika janin masih berada dalam kandungan.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor seperti anemia, kekurangan gizi, infeksi, hingga komplikasi kehamilan yang dialami ibu.
Sementara dua pertiga kasus lainnya berkembang pada dua tahun pertama kehidupan anak yang dipengaruhi pemberian ASI, imunisasi, pola asuh, pencegahan infeksi, dan kualitas lingkungan tempat anak tumbuh.
Karena itu, ia menilai penanganan kesehatan ibu dan anak harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan banyak tenaga kesehatan.
“Perlu kerja sama erat antara bidan, perawat, ahli gizi, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya agar ibu dan anak memperoleh pelayanan menyeluruh mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan komplikasi,” ujarnya.
Ia menambahkan kualitas pelayanan kesehatan juga sangat ditentukan oleh mutu pendidikan tenaga kesehatan.
“Kita berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan, workshop, dan penguatan peran dokter spesialis sebagai pengajar di fakultas kedokteran, sekolah kebidanan, dan institusi pendidikan kesehatan,” katanya.
Tradisi Lokal Dinilai Punya Peran Penting
Ketua Panitia PIT XVII HOGSI sekaligus dosen FK-KMK UGM, Eugenius Phyowai Ganap menekankan pentingnya memadukan perkembangan ilmu kedokteran dengan nilai budaya yang telah lama hidup di masyarakat.