Kepala BSKAP Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025 bersifat tidak wajib dan tidak memengaruhi kelulusan siswa.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menanggapi viralnya petisi pembatalan Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025 yang digelar perdana pada Senin, 3 November 2025.
Toni menyebut, pihaknya menghargai setiap aspirasi masyarakat, termasuk petisi yang diinisiasi oleh akun bernama Siswa Agit di situs Change.org. “Sebetulnya kami sangat menghargai apa namanya aspirasi yang disampaikan dalam petisi,” ujar Toni dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (3/11).
Ia menjelaskan, soal-soal dalam TKA telah disusun dengan mengacu pada kurikulum yang berlaku di sekolah. “Adapun dikaitkan dengan soal kurikulum, kita sangat adaptif terhadap kurikulum yang ada, baik Kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013. Artinya, soal-soal yang paling kuat itu adaptasi terhadap dua kurikulum yang sedang berlaku,” jelasnya.
Toni juga menegaskan bahwa TKA tidak menjadi syarat kelulusan. Penentuan kelulusan tetap menjadi kewenangan satuan pendidikan di masing-masing jenjang sekolah. “Kita ketahui bersama bahwa TKA ini tidak wajib dan tidak menentukan kelulusan. Artinya, kelulusan itu akan ditentukan oleh satuan pendidikan,” ujarnya.
Toni turut mendoakan siswa penggagas petisi agar diberi kemudahan selama pelaksanaan TKA berlangsung. “Kami tetap beri dia semangat untuk menyukseskan tes kemampuan akademik ini,” kata Toni.
Sebelumnya, pada 26 Oktober 2025, muncul gerakan petisi berjudul “Batalkan Pelaksanaan TKA 2025” yang diunggah di situs Change.org. Hingga Senin (3/11), petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 241 ribu tanda tangan.
Dalam keterangan di situs tersebut, penggagas petisi mengaku para siswa keberatan dengan jadwal pelaksanaan TKA yang dianggap mendadak. Pengumuman resmi pada 14 Juli 2025 dinilai terlalu singkat menuju pelaksanaan tes pada 3 November 2025. “Bayangkan, sesingkat itu waktu kami untuk bersiap. Waktu persiapan yang sangat singkat akibat jadwal kelas 12 yang padat hanya menambah tantangan yang kami hadapi,” tulis petisi tersebut.





