JAKARTA—Majelis Ulama Indonesia (MUI) menonaktifkan dua anggotanya yang diduga berhubungan dengan organisasi yang terafiliasi dengan Yahudi dan Israel. Kemungkinan kedua orang yang dimaksud itu pernah bertemu dengan pihak Israel.
“Saya sudah menonaktifkan pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan MUI,” kata Muhammad Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa, Rabu (17/7/2024).
Asrorun belum membeberkan secara detail identitas kedua anggota MUI yang dia maksud. Ia beralasan MUI Pusat masih menelusurinya.
Asrorun hanya mengatakan jika kedua nama tersebut tidak ikut berangkat ke Israel dan bertemu dengan Presiden Isaac Herzog–sebagaimana lima aktivis NU–namun tergabung dalam sebuah organisasi yang di dalamnya terafiliasi dengan Yahudi.
“Tahun kemarin dia melakukan kunjungan ke Dubes Israel di Singapura,” kata Asrorun.
Berdasarkan penelusuran Samudra Fakta, ada dua nama pengurus MUI yang pernah bertemu dengan pihak Israel. Mereka adalah Istibsyaroh dan Mukti Ali Qusyairi. Berikut profil keduanya:
Mukti Ali Qusyairi
Dia adalah lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Mukti aktif menulis, mengajar, dan mengisi kajian. Dia menjabat sebagai Ketua Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Saat ini dia merupakan anggota Komisi Fatwa MUI.
Mukti pernah bertemu dengan pihak Israel di Singapura pada 12–16 Agustus 2023. Ketika itu dia ke Negeri Singa bersama anggota lembaga Pusat Studi Warisan Ibrahim untuk Perdamaian (RAHIM). Ada enam delegasi yang tercatat berangkat.
Empat dari enam delegasi itu diketahui sebagai nahdilyyin. Mereka ialah empat orang pengurus RAHIM dari NU, yakni Mukti Ali Qusyairi, Zainul Maarif—salah satu dari lima aktivis NU yang menemui Presiden Isaac Herzog di Israel—, Asnawi Ridwan, dan Roland Gunawan.
Mengutip lansiran situs RAHIM, nama Mukti Ali Qusyairi tergabung dalam tim pengurus dan menjabat sebagai Presiden Direktur lembaga tersebut. Masih sesuai lansiran RAHIM, mereka mengaku bekerja sama dengan Duta Besar Israel untuk Singapura, Eli Vered Hazan, dan Wakil Kepala Misi Israel Hila Burg Silberstein.
Usai kunjungan ke Singapura, Mukti Ali Qusyari menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan melakukan penelitian lapangan. Mukti dan timnya ingin menggali data dan belajar dari Singapura terkait toleransi dan hubungan antaragama, terutama Islam-Yahudi.
RAHIM sendiri mengklaim bahwa kunjungan tersebut merupakan kerja sama dengan tiga pihak, yaitu LBM NU, Eits Chaim Indonesia—sebuah yayasan nonprofit yang bertujuan meningkatkan pemahaman kepercayaan bangsa Yahudi—dan Asosiasi Bani Noah Indonesia, yang anggotanya merupakan pengikut Yahudi Torah, meski bukan keturunan Yahudi.





