JAKARTA — Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) akan menjadi saksi laga epik Indonesia vs Australia, Selasa (10/9/2024) pukul 19.00 WIB. Meski jarak peringkat FIFA kedua negara bagai langit dan bumi—Indonesia di peringkat 134 dan Australia di peringkat 24—, pertandingan ini bukan sekadar angka. Ini tentang semangat, kebanggaan, dan puputan; pertarungan sampai titik darah penghabisan.
Dalam sejarah Nusantara, kata “puputan” merujuk pada perlawanan tanpa kompromi, perang hingga akhir tanpa menyerah, seperti yang terjadi di Margarana pada 20 November 1946.
Indonesia, di bawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, habis-habisan melawan Belanda. Tidak ada kata menyerah, hanya ada tekad untuk mati dengan kehormatan. Kini, makna puputan ini terasa relevan di lapangan hijau, di mana skuad Garuda dipimpin oleh pelatih Shin Tae-yong yang siap bertempur melawan tim unggulan, Australia.
“Pertandingan besok tidak mudah bagi kami karena Australia ranking 20-an. Indonesia 130-an, pastinya akan menjadi laga sulit buat kami,” ujar Shin Tae-yong kepada media.
Ia menyadari bahwa Australia, dengan pengalaman bermain di level internasional yang lebih tinggi, akan mendominasi pertandingan. Namun, Shin tidak gentar. “Tapi pemain kami tidak akan menyerah, bagaimanapun caranya laga home di sini akan menjadikan pertandingan yang baik melawan Australia besok,” tambahnya.
Ada keyakinan yang tak tergoyahkan dalam nada bicara Shin. Seperti Ngurah Rai yang memimpin pasukannya ke dalam medan perang tanpa ragu, Shin Tae-yong memahami betul bahwa lawannya lebih kuat dan lebih berpengalaman.
Namun, ia percaya pada kekuatan kolektif dari para pemainnya—anak-anak bangsa yang siap berjuang di bawah tekanan atmosfer GBK. Tiket sudah terjual habis. Artinya, 180 ribu supporter akan menyaksikan perjuangan Jay Idzes dkk.
Justin Hubner, pemain mendampingi Shin Tae-yong di konferensi pers, menyuntikkan semangat. “Tim Australia sangat kuat. Tapi kita akan fight, berjuang sebaik mungkin, dan kita lihat hasilnya seperti apa,” kata Justin Hubner.
Pelatih Australia, Graham Arnold, datang dengan beban yang berbeda. Setelah kekalahan memalukan 1-0 dari Bahrain di Gold Coast, Australia kini berada dalam tekanan. The Socceroos mendominasi penguasaan bola, tapi kurang tajam dalam serangan saat kalah melawan Bahrain.
Mereka mampu melepaskan empat tembakan ke gawang meski menguasai 70 persen pertandingan. “Ini hanya tentang melakukan permainan dengan benar dan memastikan mentalitas kami baik,” tegas Arnold dikutip dari AAP.
Keadaan ini membuat pertandingan di SUGBK menjadi sebuah laga yang lebih dari sekadar permainan biasa. Ini adalah pertarungan mental dan fisik yang sarat dengan simbolisme sejarah.
Socceroos datang dengan niat untuk membuktikan diri setelah hasil buruk, sedangkan Indonesia datang dengan semangat juang ala puputan.
Seperti kata-kata Arnold, atmosfer di SUGBK akan luar biasa, dan tekanannya nyata. Namun, hal itu justru menjadi energi yang bisa membakar semangat para pemain Indonesia untuk bertarung tanpa lelah.
Namun, cuaca yang tidak bersahabat membatalkan sesi latihan resmi Socceroos di GBK. Hujan deras memaksa mereka kembali ke markas latihan untuk sesi terakhir. Ada yang berkata, ini adalah pertanda alam, seperti semesta ikut bersekongkol dalam puputan modern ini.
Sementara itu, Indonesia terus mempersiapkan diri, menyusun strategi tanpa banyak bicara, mengandalkan semangat juang yang membara. Pertandingan nanti akan menjadi lebih dari sekadar angka di papan skor. Ini adalah puputan Margarana di lapangan hijau.
Seperti semangat yang dihidupkan oleh Kolonel Ngurah Rai di masa lalu, skuad Garuda siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Terlepas dari hasilnya, mereka akan keluar dari lapangan dengan kepala tegak, dengan tekad yang tidak pernah padam.*





