Di sisi lain, Ketum Nasdem Surya Paloh hanya layak disebut sebagai seorang negarawan di mata para pendukung Jokowi, Gibran, dan Prabowo. Tetapi, di internal para pendukung koalisi AMIN, yang diisi oleh Nasdem, PKB, dan PKS, sikap politik Surya Paloh benar-benar merusak adab persahabatan dalam politik.
Penerimaan Surya Paloh terhadap kemenangan Prabowo-Gibran terjadi di tengah pasangan Capres Anies Rasyid Baswedan dan Cawapres Abdul Muhaimin Iskandar tengah mengajukan gugatan. Paloh adalah orang pertama yang serius mengusung Anies-Muhaimin, tetapi juga menjadi orang pertama yang meninggalkan keduanya.
Jika perilaku politik Surya Paloh disebut sebagai negarawan oleh orang yang terjerat kasus KPK seperti Gus Ipul, maka makna negarawan merosot drastis. James Freeman Clarke (w. 1888), filsuf Amerika, membedakan antara seorang politisi dan negarawan. Menurut Clarke, “a politician thinks of the next election. A statesman, of the next generation.”
Keberhasilan Surya Paloh mengangkat perolehan kursi partai Nasdem tidak luput dari “Anies Effect”. Jika memang Surya Paloh adalah seorang negarawan, setidaknya mengucapkan “terima kasih” dengan cara menunggu hasil akhir dari perjuangan Anies-Muhaimin. Namun, nyatanya tidak demikian.
Surya Paloh adalah politisi, yang hanya memikirkan nasib dan masa depan partai Nasdem, bukan nasib bangsa. Surya Paloh tidak peduli apakah Pilpres 2024 adalah praktik politik dinasti, bukan demokrasi, atau bukan. Baginya, yang terpenting adalah segera bergabung dengan pemerintahan.





