Aktivitas vulkanik Gunung Slamet terus meningkat. Gunung api yang terletak di wilayah Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga itu saat ini mengalami gempa tremor menerus dengan amplitudo berkisar 0,5 hingga 4,5 mm, dominan pada 2,5 mm.
Badan Geologi melalui laporan petugas Albertus Galih Prasida Kastawa, A.Md., pada Minggu (1/12), mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas di dalam radius dua kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet. “Hal ini demi keselamatan bersama,” ujar Galih.
Gunung Slamet, yang memiliki ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl), terpantau mengeluarkan asap putih dari kawah utama dengan intensitas sedang hingga tebal. Ketinggian asap mencapai 100-300 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung bervariasi dari cerah hingga hujan dengan angin bertiup lemah ke arah barat.
Peningkatan Aktivitas
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Budi Nugroho, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik meskipun aktivitas vulkanik Gunung Slamet meningkat. “Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi freatik maupun magmatik yang dapat melontarkan material pijar di sekitar puncak dalam radius dua kilometer,” ujar Budi, seperti dilansir dari Antara.
Berdasarkan catatan Badan Geologi, pada periode pengamatan 9-19 Mei 2024, terdeteksi gempa vulkanik dalam yang menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan. Aktivitas ini disertai dengan peningkatan gempa vulkanik dangkal, gempa embusan, gempa low frequency, dan amplitudo gempa tremor yang terus meningkat.
Pada 28 November 2024, terjadi gempa tremor non-harmonik selama 11 menit, dimulai pukul 07.35 WIB hingga 07.46 WIB. Hal ini menjadi penanda eskalasi aktivitas Gunung Slamet menuju fase kritis.
Pengawasan Ketat
Saat ini, pengawasan intensif dilakukan oleh pihak terkait untuk mengantisipasi dampak dari aktivitas vulkanik tersebut. Wisatawan, terutama para pendaki, diminta mematuhi larangan memasuki area berbahaya demi keselamatan diri.
Gunung Slamet dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Oleh karena itu, seluruh pihak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan terus mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.***
