Gunung Api Lewotobi Laki-laki Kembali Bergejolak, Lava Tampak Mengalir dari Puncak

Gunung Api Lewotobi Laki-Laki meletus pada Selasa (23/4/2025) malam. Foto:PVMBG
Gunung api Lewotobi Laki-Laki, saudara kembar dari Lewotobi Perempuan, kembali menggeliat. Dalam sepekan terakhir, 14–21 April 2025, gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut itu menunjukkan peningkatan aktivitas yang tak bisa dianggap sepele. Statusnya masih bertahan di Level III—Siaga.

__________

Dari kejauhan, sosoknya kadang terlihat jelas, kadang lenyap di balik kabut. Di puncaknya, asap kawah putih mengepul, tipis hingga tebal, menyembul setinggi 800 meter. Di lain waktu, kolom abu kelabu melonjak ke langit, menyentuh 1.000 meter, tanda bahwa perut bumi tengah bergejolak.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada malam hari, sinar api samar masih bisa terlihat di puncaknya, memberi petunjuk bahwa material pijar berada dekat permukaan. Lava panas juga ditemukan mengalir di dua arah: ke barat laut sejauh 3,8 kilometer, dan ke timur laut hingga 4,2 kilometer. Di kawasan ini pula, potensi lahar mengintai, apalagi saat hujan turun deras.

Bacaan Lainnya

Data kegempaan selama periode pengamatan mencatat 87 kali letusan, 206 kali hembusan, 68 tremor harmonik, 11 gempa frekuensi rendah, dan 29 gempa vulkanik dalam. Tiga kali getaran banjir pun terdeteksi, seiring hujan yang mengguyur daerah hulu sungai.

Namun, bukan hanya frekuensi yang mengkhawatirkan. Analisis kegempaan menunjukkan dinamika bawah tanah yang kompleks. Tekanan internal meningkat, ditandai dengan turunnya jumlah gempa hembusan, namun disertai letusan yang lebih sering. Ini sinyal bahwa magma sedang mencari jalan keluar. Dan memang, jalur itu tampaknya terbuka: tidak ada gempa vulkanik dangkal, tapi erupsi tetap terjadi. Sistemnya terbuka.

Fluida magma tampak bergerak naik, tergambar dari meningkatnya gempa low frequency. Sementara itu, tremor harmonik menurun, indikasi bahwa pelepasan fluida mulai tertahan. Seakan magma tengah mengendap, bersiap menggelegak keluar dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.

Sementara di permukaan, masyarakat hidup dalam ketegangan. Tidak hanya harus waspada terhadap letusan dan lontaran material, tetapi juga potensi banjir lahar yang dapat menyapu pemukiman. Beberapa wilayah di lereng dan kaki gunung masuk dalam zona bahaya lahar: Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, Nawakote, hingga Nurabelen.

Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta tetap siaga. Aktivitas dalam radius 6 kilometer dari kawah utama dilarang keras. Penduduk diminta menggunakan masker, menghindari debu abu vulkanik yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Hingga berita ini ditulis, status Siaga belum berubah. PVMBG menegaskan, pemantauan akan terus dilakukan secara berkala. Dan sebagaimana lazimnya alam bekerja, Gunungapi Lewotobi Laki-laki bisa memilih diam sejenak atau meletus lebih besar. Masyarakat hanya bisa menunggu dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.***

Pos terkait