Tak ketinggalan, dua negara dengan posisi geopolitik penting juga menegaskan sikapnya. Indonesia lewat Presiden Prabowo Subianto menyatakan di forum PBB bahwa “pengakuan negara Palestina adalah langkah tepat di sisi sejarah yang benar.”

Indonesia mendesak negara-negara lain segera mengikuti jejak itu, sekaligus menawarkan jaminan keamanan bila Israel kelak mengakui Palestina.
Kolombia, di bawah Presiden Gustavo Petro, melangkah lebih jauh. Bogotá tak hanya mengakui Palestina sebagai negara merdeka, tetapi juga memutus hubungan diplomatik dengan Israel sejak 2024.
Bahkan, Petro baru-baru ini menunjuk duta besar pertama Kolombia untuk Palestina. Di podium PBB, Petro menyebut tindakan Israel sebagai “genosida” dan menyerukan pembentukan pasukan internasional untuk melindungi rakyat Gaza.

Suara dari Palestina Sendiri
Survei terbaru Palestinian Center for Policy and Survey Research (PSR) menunjukkan dukungan terhadap solusi dua negara kembali naik, meski Hamas tetap memegang basis dukungan terbesar.
Ada rasa lelah, ada rasa realistis. Rakyat Palestina mulai sadar bahwa kemenangan militer terasa jauh, sementara jalur diplomasi menawarkan peluang baru. Namun, pertanyaan besar pun lahir: apakah ini jalan kompromi pahit, atau justru kesempatan emas yang akhirnya terbuka?
Dari Simbol Menuju Aksi Nyata
Pengakuan tanpa sanksi hanyalah simbol. Sejarah apartheid Afrika Selatan runtuh bukan sekadar karena pengakuan internasional, melainkan karena sanksi ekonomi, embargo, dan isolasi total.
Apakah dunia berani melakukan hal yang sama terhadap Israel? Atau lagi-lagi kepentingan minyak, senjata, dan geopolitik akan menutup suara nurani?





