Fenomena Sesar Lembang dan Kurangnya Upaya Mitigasi

Sesar Lembang perlu diwaspadai karena dia berada di atas daerah padat penduduk: Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Bandung. Sementara dia memiliki potensi pelepasan energi sebesar 6,5 – 7 SR—yang terjadi 500 tahun sekali. Jika tiga segmen itu terjadi bersamaan, tentu akibatnya akan luar biasa. Apalagi ini termasuk gempa dangkal. Aktivitas Sesar Lembang juga dapat memengaruhi aktivitas vulkanis Gunung Tangkuban Parahu, namun tidak bisa sebaliknya, di mana aktivitas vulkanis Gunung Tangkuban Parahu tidak bisa memengaruhi aktivitas tektonis patahan.

Dengan mengetahui potensi bencana akibat kondisi geologis yang dikelilingi sesar dan gunung berapi aktif, yang bisa mengakibatkan gempa vulkanis dangkal; memperhatikan juga jika Kota Bandung dan Cimahi berada di cekungan; serta melihat kondisi tata kota dan penyebaran penduduknya, semestinya sudah ada langkah-langkah mitigasi dan antisipasi komperehensif dari seluruh instansi terkait. Apalagi jika fenomena yang terjadi nantinya mencapai siklus 500 tahunan—yang kemungkinan akan menimbulkan kerusakan yang cukup parah.

Memang tidak mungkin mencegah fenomena alam. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya, supaya kerusakan dan kerugiannya bisa diminimalisir sekecil mungkin. Soal mitigasi, mungkin Indonesia bisa belajar—salah satunya—dari Norwegia. Salah satu negara Skandinavia sudah membuat Svalbard Global Seed Vault, yang berfungsi untuk menyimpan biji dan bibit tanaman, supaya jika bencana besar yang menimbulkan kerusakaan parah berlalu, manusia bisa menanam lagi dan melanjutkan kehidupannya.

Bacaan Lainnya

Sedangkan Indonesia, yang potensi bencana alamnya jelas-jelas di depan mata, sudah menyiapkan apa saja untuk antisipasi? Sepertinya perlu membangun kesadaran kepada seluruh pemimpin dan stakeholder di negeri ini; bahwa bukan hanya pergerakan lawan politik saja yang perlu dibaca dan diantisipasi. Fenomena alam juga perlu. Jauh lebih perlu. [SF]

Pos terkait