Fakta Mengejutkan di Balik Gagalnya Swasembada Sapi: Kawin Berulang Jadi Momok

Daging Sapi
Gangguan yang ditemukan pada sapi di Indonesia adalah kawin berulang. Kondisi ini mengakibatkan gagal swasembada daging sapi. | Ilustrasi/ Sora ChatGPT
Indonesia hingga kini belum juga berhasil memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri. Ketergantungan pada impor dari negara lain masih jadi pilihan utama untuk menutup kekurangan pasokan di dalam negeri. Padahal, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi lokal. Namun, hasilnya masih belum merata dan menimbulkan kesenjangan antarwilayah.

____________________

Kondisi ini diperparah dengan tekanan lingkungan, terutama akibat alih fungsi lahan yang menggerus ketersediaan pakan alami. Situasi tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan populasi sapi di Tanah Air.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. drh. Asmarani Kusumawati, M.P., dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa, 20 Mei 2025. Asmarani dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Teknologi Reproduksi Veteriner Molekuler di Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Dalam orasinya yang berjudul Teknologi Reproduksi Veteriner Molekuler untuk Penguatan Ketahanan Pangan Indonesia, ia menyoroti berbagai persoalan mendasar dalam dunia peternakan sapi.

Bacaan Lainnya
Prof. Dr. drh. Asmarani Kusumawati, M.P., (kanan) saat dikukuhkan menjadi Guru Besar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Selasa (20/5). Asmarani dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Reproduksi Veteriner Molekuler FKH UGM. Foto:UGM

Menurutnya, selain soal pakan dan lingkungan, persoalan serius lain yang kerap terjadi adalah kawin berulang pada sapi. Masalah ini berdampak pada rendahnya efisiensi reproduksi dan produktivitas sapi. “Kondisi ini bisa dilihat dari panjangnya calving interval, rendahnya angka konsepsi, tingginya service per conception, serta kondisi metabolik yang tidak optimal,” jelasnya.

Asmarani dan timnya menemukan bahwa salah satu penyebab utama tingginya kasus kawin berulang adalah kondisi infrastruktur peternakan yang belum memadai, khususnya soal sanitasi kandang. Selain itu, faktor pengetahuan peternak juga sangat berpengaruh. “Faktor-faktor ini perlu mendapat perhatian lebih agar efisiensi reproduksi bisa meningkat,” imbuhnya.

Gangguan lain yang tak kalah penting adalah masalah reproduksi pascamelahirkan, seperti peningkatan jumlah leukosit akibat infeksi. Menurut Asmarani, kasus ini sering ditemukan di lapangan. Bahkan, sejumlah penyakit infeksi seperti brucellosis, infectious bovine rhinotracheitis (IBR), toksoplasmosis, foot and mouth disease (FMD), serta penyakit jembrana masih jadi tantangan serius.

“Penyakit-penyakit ini bukan hanya mengganggu kesehatan ternak, tapi juga merusak organ reproduksi. Dampaknya bisa berupa keguguran, infertilitas, hingga kelahiran prematur. Akibatnya, produktivitas ternak menurun dan peternak mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit,” terangnya. Karena itu, deteksi dini dan akurat sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Asmarani dan tim risetnya mengembangkan metode deteksi molekuler dan imunokimia guna mengidentifikasi patogen pada hewan ternak. Salah satu terobosan yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi nanopartikel sebagai sistem penghantaran antigen dalam pengembangan vaksin.

Riset menunjukkan bahwa nanopartikel berbahan dasar chitosan, liposom, dan polylactic-co-glycolic acid efektif dalam mengenkapsulasi dan melindungi antigen vaksin. Bahkan, teknologi ini mampu meningkatkan penyerapan oleh sel. “Kami berharap metode ini bisa diadopsi secara luas, baik oleh laboratorium diagnostik, dinas peternakan, maupun langsung oleh para peternak,” tegasnya.

Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof. M. Baiquni menyampaikan, Prof. Asmarani merupakan salah satu dari 529 guru besar aktif di lingkungan UGM. Di Fakultas Kedokteran Hewan, ia menjadi satu dari 21 guru besar aktif dari total 33 guru besar yang pernah dimiliki fakultas tersebut.***

Pos terkait