Struktur Oxford dan Cambridge yang terdiri dari banyak college mirip dengan kompleks pesantren: ada asrama, tempat ibadah, ruang makan, dan seorang “kiai” yang memimpin. Bahkan, metode belajar di sana menyerupai sorogan dan bandongan yang diajarkan di pesantren.
Sekolah dan Pesantren: Dua Dunia Berbeda
Dalam kesempatan lain di Peringatan Setengah Abad Pondok Pesantren Al-Huda Doglo, Boyolali, Cak Nun menegaskan perbedaan mendasar antara sekolah dan pesantren.
“Sekolah lahir karena banyak orang bodoh lalu didatangkan satu guru. Pesantren, satu orang alim didatangi banyak orang,” katanya.
Menurutnya, titel sekolah seperti doktor atau profesor tetap melekat meski akhlaknya rusak. Tapi di pesantren, kehormatan seorang kiai langsung hilang kalau akhlaknya jelek. “Titel di pesantren bukan soal ijazah, tapi soal keluhuran,” tegasnya.
Roan Sosial Santri
Dalam tulisannya di Tempo edisi 17/XXII/15–21 Juni 1991, Cak Nun mengenang masa nyantrinya di Gontor. Ia menggambarkan pesantren sebagai ruang belajar hidup yang mandiri dan produktif.
“Mata sunyi saya menatapi santri-santri yang sibuk mengurusi toko besi, apotek, rumah sakit mini, huller, rumah makan. Itu semua ide anak-anak sendiri,” tulisnya.
Cak Nun melihat kehidupan santri sebagai bentuk ekonomi sosial yang tumbuh dari bawah—small is beautiful. Distribusi pendapatan, ide, dan tanggung jawab berjalan alami tanpa proposal dan proyek.
Ia menutup tulisannya dengan potongan kalimat yang menggambarkan esensi pendidikan pesantren:
“Kiai tak pernah kasih ceramah. Sesudah uluk salam, beliau langsung bilang, ‘Tolong, saya minta daftar pengaturan rombongan santri yang ngangkuti batu bata untuk sekolahan di desa Anu itu…’”
Pesantren, bagi Cak Nun, bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah miniatur masyarakat ideal — mandiri, adil, berjiwa sosial, dan berorientasi kepada Tuhan.
Dan barangkali benar, seperti ramalannya: suatu hari nanti, dunia memang akan belajar kepada pesantren.***





