Disebut Underbow PKI, GMNI Tuntut Kemenag Jatim Tarik Majalah MPA

GMNI memprotes Majalah MPA terbitan Kemenag Jatim yang menyebut mereka sebagai sayap PKI. (Istimewa) 

GMNI mendesak penarikan Majalah MPA terbitan Kemenag Jawa Timur karena menarasikan organisasi mahasiswa tersebut sebagai sayap PKI. Redaksi berdalih hal itu merupakan murni salah ketik.

Ketua DPP GMNI Bidang Agitasi dan Propaganda, Refi Acmad Zuhair, menegaskan organisasinya tidak pernah menjadi sayap atau underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Pernyataan ini merespons narasi Majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) terbitan Kemenag Jawa Timur.

Ihwal publikasi tersebut, Refi menilai isi tulisan mencemarkan nama baik GMNI dan memutarbalikkan fakta sejarah. Ia menjelaskan bahwa organisasinya murni berasaskan Pancasila dengan pedoman ajaran Marhaenisme.

“Terlebih sejak PNI bubar, GMNI tidak pernah menjadi underbow partai politik manapun. Jadi apa yang dimuat dalam majalah MPA adalah kekeliruan yang fatal,” kata Refi dalam keterangannya, Sabtu (19/8/2026).

Bacaan Lainnya

Bantahan Salah Ketik dan Tuntutan GMNI

Artikel di Majalah MPA terbitan Kemenag Jawa Timur. (Istimewa)

Sebelumnya, pihak redaksi Majalah MPA telah menyampaikan permohonan maaf tertulis pada Ahad, 20 September 2026. Mereka mengakui ada kesalahan penulisan singkatan yang seharusnya ditulis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).

Selain itu, Refi menganggap persoalan ini tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan ketik. Menurutnya, jika murni keliru singkatan, kepanjangan nama organisasi semestinya tetap ditulis dengan benar oleh penulis opini terkait.

GMNI lantas melayangkan lima tuntutan resmi kepada Kementerian Agama. Tuntutan itu mencakup penarikan edisi majalah terkait, permohonan maaf terbuka, hingga pemuatan klarifikasi sejarah.

Sejarah dan Asas GMNI

Merujuk pada sejarahnya, GMNI lahir dari hasil peleburan tiga organisasi mahasiswa yang berasaskan Marhaenisme pada September 1953. Ketiganya meliputi Gerakan Mahasiswa Marhaenis di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) di Jakarta.

Fusi tersebut disepakati dalam rapat akbar di rumah dinas Wali Kota Jakarta Raya, Soediro. Organisasi ini resmi menggelar kongres pertamanya di Surabaya pada 23 Maret 1954 dengan dukungan langsung dari Presiden Sukarno. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir atau dies natalis GMNI.

GMNI memiliki asas Marhaenisme yang mencakup sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Organisasi ini bergerak dengan moto “Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang”, yang bermakna kader harus selalu memikirkan rakyat dan mengabdikan ilmunya untuk perjuangan.

GMNI khawatir narasi keliru dari majalah Kemenag Jatim tersebut dapat mencederai nilai moderasi beragama dan mengaburkan fakta sejarah di tengah masyarakat.

“Persoalan ini bukan sekadar salah ketik, tetapi mencerminkan kekeliruan pemahaman yang mendasar mengenai sejarah GMNI,” ujar Refi. ***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan