Menurut hasil pantauan BMKG, apabila dilihat dari konsentrasi CO2 yang diukur di GAW Kototabang, konsentrasi CO2 sejak tahun 2004 semakin melompat hingga tahun 2023 ini. Dari sekitar 370 ppm konsentrasi CO2 pada tahun 2004, pada tahun ini sudah berkisar 415 ppm. Inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan suhu.
“Padahal, bukit Kototabang itu di tengah hutan, tidak di Jakarta, tidak ada polusi. Sehingga bisa di bayangkan, di tengah hutan pun konsentrasi CO2 di kota pun sudah melompat. Hal ini mengakibatkan selubung gas rumah kaca di atmosfer,” terangnya.
“Selubung gas rumah kaca itu menghambat terlepasnya radiasi matahari kembali ke angkasa. Selama puluhan tahun radiasi itu tidak kembali ke angkasa karena CO2 gas rumah kaca,” jelas Dwikorita. Akibatnya, sejumlah efek diprediksi akan melanda bumi, termasuk Indonesia.
“Dampaknya, es Puncak Jayawijaya diprediksi akan punah tahun 2025. Dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi,” ungkapnya.
“Untuk itu BMKG melakukan pelatihan adaptasi perubahan iklim, meningkatkan literasi iklim untuk masyarakat, serta memperluas penerapan transformasi energi dari energi fosil ke nonfosil,” pungkas Dwikorita.
— mg-02 —





