BANYUWANGI — Seorang Santri Ponpes PPTQ Al-Hanifiyyah Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri meninggal dunia dengan darah mengalir dari dadanya. Santri nahas tersebut adalah Bintang Balqis Maulana asal Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.
Bintang meninggal dunia di Kediri pada Jumat (23/2/2024) lalu. Jasadnya kemudian dibawa pulang ke Banyuwangi. Karena terdapat tanda-tanda mencurigakan, kasus kematian Bintang lantas dilaporkan ke Polsek Glenmore, Banyuwangi, Sabtu (24/2/2024). Kepergian remaja 14 tahun itu menyisakan duka mendalam bagi Suyati, ibu kandung almarhum Bintang Balqis Maulana.
Suyati shock kala mengingat pesan terakhir dari sang putra bungsunya itu. Sebelum mendapat kabar anaknya telah tiada, Suyati sempat saling mengirim pesan melalui WhatsApp. “Kenapa tang (Bintang),” tulis Suyati di Chat seperti dilansir laman Berita Jatim. “Sini jemput Bintang,” jawab almarhum kala itu. “Nunggu liburan puasa gak bisa ta nak?,” sahut ibunya. “Gak,” jawabnya singkat. “Bentar lagi puasa liburan gak usah balik lagi kalau mau berhenti,” sergah Suyati.
“Ya, cepat ma sini,” kata Bintang. Suyati membujuk anaknya agar bertahan. Suyati juga sempat akan memberinya kiriman agar mau tetap tinggal di Ponpes. Bintang Balqis Maulana menolak. Dia ingin ibu menjemputnya pulang segera. “Aku takut ma, tolong. Cepat sini ma. Sini cepat jemput,” tulis Bintang melalui Whatsapp.
Meski sempat waswas, Suyati tak menyangka jika putranya mengalami hal yang tak terduga. Hal yang paling disesali adalah mengenai keluhan anaknya yang membutuhkan pertolongan. “Tolong kuatkan nak sampai puasa dah liburan,” kata Suyati lagi. “Kalau ada apa-apa lapor sama kiainya,” tutupnya.
Akan tetapi, pesan tersebut menjadi pesan terakhir Suyati. Bintang kini telah tiada. Dia mengembuskan napas terakhirnya. Diduga, Bintang adalah korban penganiayaan teman-temannya di Ponpes PPTQ Al-Hanifiyyah. Polres Kediri Kota sudah menangkap 4 santri terduga pelaku penganiayaan terhadap Bintang.


