Jawa Barat dikelilingi 29 segmen sesar aktif penyebar gempa. BMKG meminta masyarakat memperkuat mitigasi struktural dan rutin menggelar simulasi evakuasi mandiri.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Suaidi Ahadi menyebutkan terdapat 29 titik segmen sesar aktif yang tersebar di wilayah Jawa Barat. Ia meminta masyarakat segera memahami mitigasi potensi bencana gempa bumi.
“Ada 29 segmen sesar di Jawa Barat. Kalau utamanya ada sesar Cimandiri, Lembang, Garsela, dan Cipamingkis,” kata Suaidi saat dihubungi pada Senin (21/9/2026).
Ihwal rincian patahan tersebut, Pusat Studi Gempa Nasional Kementerian Pekerjaan Umum mencatat sebaran 29 segmen sesar pada 2024. Patahan ini mencakup segmen Cimandiri-Citatah, Cimandiri-Cisokan, Cimandiri-Cimandiri, dan Cimandiri-Nyalindung-Cibeber.
Selain itu, terdapat segmen Lembang-Lembang, Cileunyi-Tanjungsari, Cicalengka-Cicalengka, Cianjur-Cianjur 1, dan Cianjur-Cianjur 2. Jalur lainnya meliputi Cipamingkis-Cipamingkis, Garsela-Kendang, Garsela-Kencana, Tampomas, Karangmanggu, hingga Ciremai.
Sesar aktif juga melintasi area Java Back Arc Thrust Depok, Rarata, Salak, Citarum Front, Citarum, Cariu, dan Klapanunggal.
Titik lainnya berada di Java Back Arc Thrust Cirata, Tangkuban Parahu, Cipunegara, dan Java Back Arc Thrust Tampomas. Termasuk pula sesar Baribis, Ciremai, serta Cisanggarung.
Dorongan Mitigasi Struktural dan Kultural
Menghadapi kondisi Jawa Barat di zona sesar, Suaidi mendorong dua langkah mitigasi utama sebelum lindu terjadi. Upaya ini meliputi mitigasi struktural pada fisik bangunan dan mitigasi nonstruktural di lingkungan masyarakat.
Warga diimbau untuk mengenali serta memeriksa ketahanan struktur bangunan yang ditinggali. “Kalau ada kerusakan perlu ada perbaikan, lakukan penguatan bangunan, serta memasang rambu jalur evakuasi,” tutur Suaidi.
Sementara itu, langkah nonstruktural berfokus pada pelatihan keluarga menuju titik kumpul aman saat gempa melanda. Persiapan ini dinilai krusial agar warga dapat merespons guncangan secara tepat tanpa kepanikan.
“Tiap masyarakat melakukan simulasi berkala dengan menambah jalur evakuasi di lingkungan dan sosialisasi,” kata dia.***





