BMKG Prediksi Iklim Indonesia 2026 Normal, La Nina Lemah Mengintai Awal Tahun

BMKG memprediksi iklim Indonesia tahun 2026 normal. Foto: SS Pandangan Iklim 2026
Suhu Udara Cenderung Lebih Hangat

Untuk suhu udara, rata-rata tahunan pada 2026 diprediksi berada pada kisaran 25–29 derajat Celsius. Wilayah dataran rendah seperti sebagian Sumatra Selatan, pesisir utara Jawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan berpotensi mengalami suhu di atas 28 derajat Celsius.

Sementara itu, wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan, Pegunungan Latimojong, dan Pegunungan Jaya Wijaya diperkirakan memiliki suhu lebih rendah, berkisar 19–22 derajat Celsius.

Secara umum, suhu udara Indonesia pada 2026 diprediksi lebih hangat dibandingkan kondisi normal periode 1991–2020, dengan anomali berkisar 0,2–0,6 derajat Celsius. Anomali suhu terendah diperkirakan terjadi pada Mei, sedangkan tertinggi pada Juli 2026.

Risiko Bencana dan Dampak Kesehatan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa iklim normal berpotensi menjaga kualitas udara tetap baik berkat curah hujan yang cukup untuk mendukung proses pencucian alami atmosfer. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya pada musim kemarau yang berisiko meningkatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“La Niña lemah di awal tahun yang bertepatan dengan musim hujan perlu mendapat perhatian serius karena dapat meningkatkan potensi banjir dan longsor. Sebaliknya, pada periode kemarau, risiko karhutla juga harus diantisipasi melalui mitigasi yang sistematis,” ujarnya.

Selain itu, BMKG mengingatkan potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) akibat tingginya curah hujan, suhu yang relatif hangat, serta kelembapan udara yang mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.

Rekomendasi untuk Berbagai Sektor

BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim 2026 untuk mendukung ketahanan di berbagai sektor strategis. Di sektor pertanian dan perkebunan, kondisi iklim normal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas melalui penyesuaian pola tanam dan penggunaan varietas unggul, sekaligus mewaspadai hujan di musim kemarau yang dapat mengganggu komoditas tertentu.

Di sektor sumber daya air dan energi, pemerintah daerah dan pengelola diimbau menyusun Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) dengan skenario normal guna menjaga stabilitas pasokan air irigasi dan produksi listrik, terutama saat musim kemarau.

BMKG juga menegaskan akan terus menyediakan berbagai produk informasi iklim, seperti prediksi hujan bulanan, buletin iklim, prediksi musim hujan dan kemarau, serta prediksi hujan dasarian yang diperbarui secara berkala melalui kanal resmi BMKG.***