Hingga saat ini, menurut Ipung, hasil penelitian tersebut telah diuji pada skala laboratorium dan beberapa lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatera. Pengujian tersebut menunjukkan bahwa bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon pada tanah. Ipung mengatakan bahwa teknologi bioremediasi tidak hanya efektif untuk pencemar organik seperti minyak bumi, tetapi juga berpotensi diaplikasikan pada pencemar anorganik, seperti logam berat.
Dengan pengembangan teknologi bioremediasi ini, Ipung berharap agar risetnya dapat bermanfaat untuk menjawab persoalan lingkungan secara berkelanjutan. ***





