Berapa Uang Saku Ideal Jemaah Haji yang Bisa Dibawa ke Tanah Suci?

Tujuan utama berangkat haji memang ritual ibadah. Tapi, jemaah juga perlu uang saku untuk keperluan pribadi di Tanah Suci. Pemerintah menyediakan itu. Cukupkah uang itu? Dan seberapa banyak uang saku tambahan yang boleh dibawa?

_____

Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2025 yang ditetapkan Kementerian Agama (Kemenag), jemaah haji Indonesia mulai masuk asrama haji pada 1 Mei 2025. Keberangkatan gelombang pertama dijadwalkan pada 2 Mei 2025 menuju Madinah, dan gelombang kedua akan diberangkatkan mulai 17 Mei 2025 menuju Jeddah.

Setiap jemaah haji reguler 2025 akan mendapatkan uang saku dalam bentuk mata uang Arab Saudi (SAR) dari pemerintah. Uang saku ini untuk mendukung kebutuhan harian jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Bacaan Lainnya

Uang itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti membayar dan membeli makanan tambahan, atau membeli oleh-oleh untuk keluarga di Tanah Air.

Berdasarkan data resmi Kemenag, total dana untuk living cost jemaah tahun ini mencapai SAR 152.490.000, yang akan dibagikan kepada 203.320 jemaah reguler.

Setiap orang akan menerima SAR 750, atau sekitar Rp3.187.500. Uang diberikan dalam pecahan SAR 500 (1 lembar), SAR 100 (2 lembar), dan SAR 50 (1 lembar).

Mengutip laman resmi Kemenag, penyaluran uang tunai ini merupakan hasil kerja sama antara regulator, pengelola dana haji, dan pihak perbankan. Tujuannya untuk memastikan kebutuhan dasar para jemaah selama berada di Tanah Suci dapat terpenuhi dengan baik.

Namun demikian, mengacu pada pengalaman yang sudah-sudah, banyak juga jemaah yang membawa uang saku tambahan, di luar dari yang dikasih pemerintah. Tapi, jumlah bekal tambahan yang dibawa oleh calon jemaah haji dari Indonesia tentu berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan kebiasaan masing-masing individu.

Namun demikian, membawa uang secukupnya adalah langkah bijak, agar ibadah dapat berjalan dengan tenang tanpa terbebani urusan finansial. Jumlahnya harus diperhitungkan secara bijak. Membawa uang terlalu banyak dalam bentuk tunai berisiko tinggi terhadap pencurian atau kehilangan.

Menurut PMK Nomor 100/PMK.04/2018 Perubahan dari PMK Nomor 157/PMK.04/2017 dan PER-01/BC/2005, jika membawa uang tunai lebih dari Rp100 juta, atau mata uang asing senilai yang sama, jemaah haji diwajibkan melapor dan mengisi formulir pembawaan uang tunai. Jika sudah mendapatkan izin dari Bank Indonesia, maka diperbolehkan.

Tips Membawa Uang Bekal saat Haji

Ada beberapa tips bagi jemaah soal bekal untuk ibadah haji itu. Biar tidak malah bingung. Antara lain:

  • Bawa uang tunai secukupnya dalam pecahan kecil.
  • Gunakan kartu debit atau kartu kredit internasional untuk transaksi aman.
  • Simpan uang di tempat yang tersembunyi dan tidak mencolok.
  • Jangan simpan semua uang di satu tempat, sebar di beberapa dompet atau tas.
  • Agar tidak boros dan overbudget, lakukan riset kecil tentang harga oleh-oleh dan makanan ringan di sekitar Makkah dan Madinah.

Terkait poin terakhir, oleh-oleh seperti kurma, air zamzam kemasan, atau wewangian khas Arab bisa dibeli dengan harga yang bervariasi, tergantung lokasi dan kualitas barang.

Selain itu, riset harga makanan tambahan seperti camilan atau minuman ringan juga penting, terutama bagi jemaah yang memiliki kebiasaan ngemil atau kebutuhan khusus.

Harga makanan di luar paket katering resmi bisa lebih tinggi di kawasan sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dengan perencanaan dan riset yang matang, jemaah bisa membawa bekal uang dalam jumlah yang ideal, tidak terlalu sedikit, tapi juga tidak berlebihan.

Yang terpenting adalah memastikan semua kebutuhan ibadah utama sudah aman, sehingga uang pribadi hanya digunakan untuk keperluan tambahan dan darurat.

Kemenag mengimbau agar jemaah tidak membawa uang tunai dalam jumlah berlebihan. Untuk alasan keamanan, jemaah sebaiknya memanfaatkan fasilitas keuangan modern seperti kartu debit atau kartu kredit internasional. ***

Pos terkait