Belajar dari Insiden Lima Aktivis NU ke Israel: Hati-Hati dengan Kepentingan Sponsor Penelitian!

Tangkapan layar video pidato pernyataan Zainal Maarif yang sempat viral, di mana dalam video itu dia menyatakan tidak setuju dengan boikot Israel. (Foto: Tangkapan Layar)

Dalam pandangan Kurniawan, Zainul Maarif terkesan membangun alibi bahwa dirinya berdiri di dua sisi: Palestina dan juga Israel. “Tapi, fakta yang disampaikan kepada publik malah lebih banyak condong pada Israel,” kata Kurniawan

Menurut Kurniawan, penelitian internasional yang berkaitan dengan kedaulatan negara—sebagaimana klaim Zainul terkait kepergiannya ke Israel—seharusnya terkordinasikan dengan kementerian yang berkompeten, untuk menjaga misi kemanusiaan yang semestinya menjadi orientasi utama dalam sebuah penelitian.

Zainul Mundur dari Unusia

Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), institusi pendidikan tinggi di mana Zainul merupakan salah satu pengajarnya, pun menyatakan Zainul terbukti melakukan pelanggaran etik. Pernyataan tersebut muncul dalam sidang Mahkamah Etik Pegawai Unusia yang digelar pada Rabu (17/7/2024).

Bacaan Lainnya

“Dalam proses klarifikasi (dalam sidang Mahkamah Etik Unusia), Saudara Zainul Maarif telah mengonfirmasi beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Mahkamah Etik tentang seluruh aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan di Israel, mulai dari pemberangkatan, selama di sana, sampai setelah pulang dari Israel,” kata Kabiro Humas Unusia Dwi Putri, dikutip dari detikcom, Sabtu (20/7/2024).

Berdasarkan klarifikasi tersebut, Mahkamah Etik pun menyimpulkan bahwa pertemuan Zainul Maarif dengan Presiden Isaac Herzog merupakan undangan pribadi, tidak mewakili Unusia. Namun, Zainul menggunakan atribut Unusia dalam momen tersebut, tanpa meminta dan mendapat persetujuan pimpinan universitas.

Kepergian Zainul ke Israel, menurut Mahkamah Etik, juga disebut bertolak belakang dengan sikap Unusia sehingga berdampak negatif terhadap Unusia sebagai institusi pendidikan tempat dia bekerja.

Tindakan dan perbuatannya Zainul berupa kunjungan dan pertemuan-pertemuan di Israel, dan mengunggah foto serta video beserta caption di media sosial, juga dinilai menunjukkan tidak adanya kepekaan dan sensibilitas terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Unusia juga menilai tindakan Zainul dapat dimaknai melegitimasi perbuatan rezim Israel terhadap warga Palestina, yang bertentangan dengan sikap resmi Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang mendukung perjuangan warga Palestina.

Zainul mundur dari Unusia pada Jumat (19/7/2024). Sebelum mundur, dia menulis surat pernyataan terkait pertemuan dengan Presiden Israel dalam kegiatan di Israel-Palestina, di Jakarta, pada Jumat, 19 juli 2024.

Dalam surat tersebut Zainul mengaku bahwa pertemuannya dengan Presiden Israel bertujuan untuk meminta agar negara tersebut menghentikan serangannya yang melampaui batas terhadap warga Palestina di Gaza.

Dia juga mengaku bahwa pertemuannya dengan Presiden Israel hanya kegiatan tambahan dari kegiatan inti yang berjudul “Penelitian Lapangan dan Dialog Lintas Iman untuk Perdamaian”. Penelitian itu disponsori iTrek. Dan sebagai bagian dari kesimpulan penelitian yang disebutnya itu, Zainul mengungkapkan pandangannya yang salah satunya tidak setuju boikot terhadap Israel—pandangan yang menguntungkan Israel selaku pemberi sponsor.

Belajar dari kasus Zainul, Broni Kurniawan berharap ke depannya Unusia lebih teliti dan kritis menyangkut hal semacam ini. PBNU, sebagai lembaga payung utama Zainul, juga diharapkan bisa lebih teliti lagi.

Terkait sikap terhadap Zainul, Kurniawan menilai bahwa Unusia telah berhasil membuktikan keberpihakannya pada hati nurani bangsa, yang sejauh ini terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.| Imam, Andre

Pos terkait