“Bekaswiss”: Saat Kabut dan Sejuk Menyulap Bekasi Jadi Swiss Dadakan

Viral di media sosial, 'Bekaswiss", Hawa Bekasi Serasa di Swiss, sejuk dan berkabut | Tangkapan Layar X @TxtdariBekasy
Fenomena kabut dan suhu sejuk belakangan ini membuat Bekasi dijuluki “Bekaswiss”. BMKG menyebut fenomena itu wajar di musim hujan. Tapi warga diminta waspada potensi cuaca ekstrem.

__________

Biasa identik dengan panas, terik, dan kemacetan, Kota Bekasi, Jawa Barat, mendadak ‘tampil beda’ dalam beberapa hari terakhir. Udara pagi dan malam yang lebih sejuk dari biasanya, disertai kabut tipis yang menyelimuti jalanan, rumah, dan gedung, membuat warganet menjulukinya sebagai “Bekaswiss”—plesetan jenaka dari nama negara Swiss yang dikenal sejuk dan pegunungan bersalju.

Fenomena ini ramai dibicarakan setelah akun X (dulu Twitter) @TxtdariBekasy mengunggah perbandingan satir antara Bekasi dan Swiss. Tak butuh waktu lama, istilah Bekaswiss pun viral. Banyak warga mengunggah video dan foto suasana Bekasi yang berkabut di media sosial, lengkap dengan caption bernuansa liburan musim dingin.

Bacaan Lainnya

“Ini Bekasi apa Swiss sih? Berkabut bae,” tulis seorang pengguna TikTok, dalam unggahan video kabut di sekitar Grand Wisata Bekasi, Ahad malam, 29 Mei 2025.

“Bekasi rasa Jatinangor di pagi hari, berkabut cuyy. #Bekaswiss,” timpal akun X @ibazss.

Ada juga yang menyelipkan kekaguman: “Gokss aku suka Bekasi yang enihhh… today Bekasi menjadi bekaswiss,” tulis @easywinnyshal.

Meme dan satire pun bermunculan. Mulai dari peta planet Bekasi yang digambarkan di antara Matahari dan Bumi, hingga unggahan-unggahan yang menampilkan suasana kabut bak pedesaan di Pegunungan Alpen.

Fenomena Alam yang Wajar

Meski suasananya terasa luar biasa, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena kabut ini adalah hal yang wajar terjadi di musim hujan.

“Ini fenomena normal saat musim hujan dengan angin tenang dan curah hujan tinggi,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, Senin, 30 Juni 2025.

Menurutnya, kabut terbentuk akibat kombinasi tiga faktor utama: curah hujan yang cukup, kelembapan udara yang tinggi, dan pergerakan angin yang membawa udara sejuk. 

Ketika suhu menurun di malam hari, dan kelembapan mencapai 90 persen, udara menjadi jenuh dan membentuk kabut. Suhu Bekasi beberapa hari terakhir tercatat di angka 23–24 derajat Celcius—cukup dingin untuk ukuran kota metropolitan.

Guswanto menambahkan, fenomena ini kemungkinan masih akan berlanjut beberapa hari ke depan, terutama saat malam hingga pagi hari.

Kabut Bukan Selalu Polusi

Banyak warga sempat mengira bahwa kemunculan kabut adalah pertanda udara kotor atau polusi tinggi. Namun, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, membantah anggapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kabut tak selalu berarti kualitas udara buruk.

“Meskipun kabut bisa bercampur dengan partikel polusi, itu tidak otomatis berarti udara sedang tidak sehat,” jelas Ida. Kabut bisa saja murni terbentuk karena kondisi cuaca tanpa disertai peningkatan polutan.

Hati-Hati Cuaca Ekstrem

Meski suasana sejuk membawa napas segar bagi warga Bekasi, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Bekasi dalam periode 30 Juni hingga 2 Juli 2025.

Akun resmi @infobmkg menyampaikan bahwa Kota Bekasi diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Sementara wilayah Kabupaten Bekasi berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat.

Dengan kata lain, walau “Bekaswiss” memberi jeda dari panas yang biasanya melekat pada kota ini, warga tetap perlu bersiap menghadapi potensi banjir dan gangguan cuaca lain.

Swiss atau bukan, Bekasi tetap butuh waspada.***

Pos terkait