Terlalu asyik bermain ponsel, misalnya dengan menonton video pendek dan membaca pesan di media sosial alias medsos, menyimpan bahaya yang mengerikan. Salah satunya adalah gangguan otak popcorn atau popcorn brain.
Dikutip dari berbagai sumber, otak popcorn merupakan istilah untuk menyebut kondisi otak yang fokusnya lekas berpindah secara terus-menerus, akibat paparan informasi digital serta multitasking.
Kata “popcorn” digunakan untuk menggambarkan keadaan otak yang menyerupai olahan jagung tersebut, yaitu meletup-letup tak tentu arah dalam waktu singkat.
Istilah “otak popcorn” dicetuskan David M. Levy, seorang ilmuwan komputer di Universitas Washington. Istilah ini dinamai berdasarkan efek ‘popping’ dari notifikasi yang terus-menerus, dorongan dopamin yang cepat dari like, dan aliran konten yang tak ada habisnya.
Kendati teknologi telah mengubah cara kita hidup dan berkomunikasi, teknologi juga telah menghadirkan tantangan signifikan terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan kesejahteraan sosial. Otak popcorn adalah salah satunya.
Penyebabnya adalah stimulasi berlebihan secara terus-menerus, yang berasal dari informasi serta notifikasi ponsel atau perangkat digital lainnya. Hal ini diperparah dengan format konten media sosial berupa video singkat dengan durasi kurang dari 1,5 menit–yang seringkali menarik perhatian pengguna gawai.
Otak manusia memang diatur untuk menjadi kecanduan pada hal-hal baru. Biasanya dieksploitasi oleh peralatan digital yang menyediakan pasokan hal-hal baru yang tak terpuaskan untuk menghibur.
Jejaring medsos, game video, dan streaming adalah pemuasan instan yang mendorong pelepasan dopamin atau hormon rasa senang dan mengondisikan otak untuk menginginkan lagi.
Bahaya Otak Popcorn Menjangkiti Anak-Anak hingga Orang Dewasa
Kecenderungan otak popcorn pada anak-anak berisiko menimbulkan sejumlah gangguan tumbuh kembang, terutama dari segi psikis. Dan faktanya, saat ini masalah otak popcorn tidak cuma dialami anak-anak, tetapi juga orang dewasa dengan dampak yang sangat serius.
Sebuah studi kesehatan yang dilakukan di University of Washington pada tahun 2011 menemukan bahwa gangguan otak popcorn menimbulkan sejumlah gangguan otak.
Oleh sebab itu, masalah ini harus diatasi secara optimal supaya kondisi otak kembali normal dan gangguan pola pikir semakin minim.
Gejala-Gejala Mengalami Otak Popcorn
Masalah otak popcorn yang sering luput dari perhatian sebenarnya mudah dikenali karena menimbulkan beberapa gejala sebagai berikut:
1. Susah berkonsentrasi
Salah satu gejala paling khas yang dialami pengidap otak popcorn adalah sulit berkonsentrasi.
Stimulasi dari konten-konten berdurasi singkat secara terus-menerus membuat seseorang sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Gejala ini dapat menurunkan produktivitas, khususnya ketika harus menyelesaikan tugas-tugas besar yang butuh fokus tingkat tinggi.
2.Rentan stres dan cemas berlebihan
Perpindahan fokus secara terus-menerus akibat rangsangan berdurasi singkat juga membuat otak rentan stres. Kondisi ini memicu kecemasan berlebihan yang dapat berujung pada penurunan fungsi kognitif.
3.Susah mengambil keputusan
Penurunan fokus dan fungsi kognitif menyebabkan seseorang yang mengalami masalah otak popcorn kesulitan mengambil keputusan.
Otak yang kelelahan akibat paparan informasi intensitas tinggi akan kesusahan mencari solusi yang kemudian membuat risiko keliru saat menentukan keputusan jadi semakin tinggi.
4.Gangguan kehidupan sosial
Pengidap otak popcorn pada umumnya lebih gemar beraktivitas dengan ponsel, sehingga cenderung mengabaikan kondisi di sekitarnya.
Jika hal ini terus berlanjut, kemampuan komunikasi dan sosialisasi orang tersebut akan terus menurun, hingga menimbulkan kesepian dan sikap anti sosial.
Masalah otak popcorn membuat seseorang merasa canggung ketika harus berinteraksi dengan orang lain serta menganggap interaksi tersebut sebagai suatu hal yang mengganggu.
5.Kecanduan ponsel
Gangguan otak popcorn yang dibiarkan berlarut-larut memicu kecanduan ponsel.
Ada bermacam-macam gejala khas yang tampak pada orang dengan kondisi ini, antara lain merasa gelisah dan ‘mati gaya’ apabila tidak menggunakan ponsel, tidak mengacuhkan kondisi di sekitarnya, waktu tidur berkurang drastis akibat terus bermain ponsel, serta emosi meledak-ledak bila ponselnya diambil atau hilang.
6. Gangguan kesehatan fisik
Otak popcorn membuat orang kesulitan menjaga kesehatan fisik karena fokus sepenuhnya diarahkan pada ponsel. Jangankan meluangkan waktu berolahraga, beralih dari ponsel untuk melakukan aktivitas lain pun terasa berat.
Durasi penggunaan ponsel yang terlalu lama menyebabkan kemunculan sejumlah gangguan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, nyeri di area tubuh tertentu (leher, bahu, pergelangan tangan, dan pinggang), serta fungsi penglihatan terganggu.
Terlalu banyak waktu di depan layar, terutama sebelum tidur, pun memengaruhi produksi melatonin—yang merupakan hormon yang bertanggung jawab untuk tidur.
Cahaya biru yang dipancarkan layar menipu otak agar tetap terjaga dan dengan demikian kualitas tidur terganggu serta menimbulkan kelelahan kronis .
Paparan layar yang berkepanjangan mengakibatkan postur tubuh yang buruk, masalah mata, dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak sehingga meningkatkan risiko obesitas, gangguan muskuloskeletal, serta masalah jantung.
Tips Menghindari Otak Popcorn
1. Detok digital dengan cara menonaktifkan HP selama beberapa hari.
Bila aktivitas Anda berkaitan erat dengan ponsel, sehingga sulit melakukan jenis detoks ini, Anda bisa mencobanya ketika hari libur atau saat sedang mengambil jatah cuti.
Tahan diri Anda untuk tidak mengakses media sosial atau aplikasi lain dan rasakan sendiri manfaatnya.
2. Perbanyak aktivitas harian yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Misalnya dengan membaca buku, menonton film berdurasi panjang, dan mengobrol dengan orang lain. Hal sederhana ini sangat ampuh meningkatkan konsentrasi sehingga otak lebih mudah fokus dalam waktu lama.
3. Hindari penggunaan ponsel pada waktu tertentu.
Misalnya saat sedang makan, berjalan kaki, menjelang tidur, dan menjelang tidur. Alangkah lebih baik jika kamu juga menetapkan durasi maksimal penggunaan HP, misalnya 2 hingga 3 jam dalam sehari.***