Daerah terdepan, terluar, tertinggal, serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi mendapat jatah enam hari sekolah.
Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah disalurkan selama lima hari sekolah dalam sepekan.
Namun, ada pengecualian bagi daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
“Pemberian MBG untuk daerah 3T dan risiko stunting tinggi dilakukan selama enam hari sekolah atau Senin sampai Sabtu. Ini merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” ujar Kepala BGN Dadan Hindayana, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (29/3/2026).
Kebijakan ini, menurut Dadan, diambil berdasarkan data terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan. Provinsi di wilayah timur, Sumatera, dan Papua menjadi contoh daerah prioritas karena angka stunting yang masih tinggi.
Pendataan Cermat Jadi Kunci
Dadan menekankan, pendataan yang cermat itu penting, untuk menentukan daerah-daerah yang berhak menerima kebijakan khusus ini.
“Tim kami akan bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” kata dia.
Pendataan mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, serta prevalensi stunting masing-masing wilayah.
“Integritas data sangat penting karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi,” tuturnya.
BGN berharap seluruh anak sekolah, terutama di daerah 3T dan rawan stunting, tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup dan mendukung pertumbuhan optimal. Kebijakan ini sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. ***





