Maestro ludruk Jawa Timur Cak Kartolo resmi menerima penghargaan Memori Kolektif Bangsa dari Arsip Nasional Republik Indonesia berkat dedikasinya merawat kesenian tradisi.
Maestro ludruk Jawa Timur, Cak Kartolo, resmi menerima anugerah Registrasi Memori Kolektif Bangsa (MKB). Penghargaan ini diberikan langsung oleh lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Yusuf Masruh menyebut capaian ini adalah bentuk penghormatan negara. Dedikasi panjang sang legenda dinilai berhasil menjaga eksistensi kesenian ludruk.
“Cak Kartolo mendapat penghargaan Memori Kolektif Bangsa,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Yusuf Masruh di Surabaya, Senin (8/6/2026).
Yusuf menilai kemampuan adaptasi menjadi kekuatan utama Cak Kartolo. Seniman gaek tersebut mampu menyelaraskan kesenian ludruk dengan modernisasi tanpa kehilangan akar budaya aslinya.
“Dulu ludruk personelnya banyak dan musiknya masih konvensional, sekarang beliau sudah memakai sistem digital. Itu bentuk adaptasi,” jelas Yusuf.
Kesadaran Arsip Mandiri
Selain piawai bermonolog dan melantunkan kidung jula-juli di atas panggung, Cak Kartolo ternyata memiliki kesadaran literasi sejarah yang sangat kuat. Ia rutin merawat dokumen pribadinya.
Sang maestro secara mandiri telah mendokumentasikan perjalanan seninya sejak era 1960-an. Koleksi tersebut mencakup naskah pertunjukan, skrip cerita, jadwal pentas, hingga catatan tangan.
“Aspek penilaiannya berasal dari arsip-arsip milik beliau. Sejak tahun 1960-an beliau sudah mendokumentasikan kegiatannya sendiri. Tidak punya manajer, tapi administrasinya tertata,” terang Yusuf.
Proses penetapan status MKB sendiri harus melewati tahapan seleksi yang sangat ketat dari ANRI. Status ini membuktikan bahwa karya Cak Kartolo merupakan warisan sejarah yang patut dilestarikan.***





